Pertamakali Bertemu Suami

Mungkin sudah banyak yang tau ya gimana cerita pertamakali saya ketemuan sama suami. Soalnya sudah sering saya tuliskan di beberapa postingan cerita nikahan saya tahun 2013 lalu. Atau mungkin juga dengar-dengar dari cerita teman dan keluarga kami, #halah sok beken amat ya? HAHAHA..

Yang kenal saya pasti tau sebagian kisahnya, gimana suami saya pertama kali ketemu saya. Tau gak kalau kehidupan itu seperti hujan, kita tidak tau tetesan mana yg membawa berkah dan bencana...seperti pula orang yang datang dalam kehidupan kita... seseorang yang kita tidak tau bahwa kelak, bersamanya lah kita mengahbiskan hidup untuk Ibadah. :)

Jadi tanggal 4 Juni 2013, Saya sama sekali tidak akan menyadari kalau hari itu, akan datang dua orang cowok ke rumah saya. Sore hari tepat pukul 16.00 wita, saat saya sedang bersiap mau pergi ke event. Udah pakaian malah nih sisa mau manasin mobil. Waktu itu saya sadar sih, di ruang tamu, ada papa yang sedang menyambut kedatangan stafnya. Sambil saya ribet keluar masuk kamar nyari jilbab dan lipstik yang sering terbang (entah dengan sendirinya atau gimana) ke kamar adik atau kamar ummi :p 


"Selesaimako pakaian?" Ummi menengok ke kamar, melihat saya yang sudah rapi dan siap pergi, "Ke ruang tamu ko dulu, bawaka ini teh untuk tamunya bapakmu..."

Sambil alis saya mengerut, saya ke ruang tamu. Mendapati 2 cowok yang sama sekali belum saya kenal, liat satu kali pun belum pernah. Waktu itu setau saya mereka satu instansi keuangan sama papa, pikirku ya mereka mau ada urusan kerjaan. Yang satu badannya agak lebar, dan yang satunya lagi yang aktif banget bicara sama papa, tinggi kurus dan berkacamata. Tapi ya peduli amat lah ya, saya cuma ngelirik satu kali ke mereka dan dengan hati-hati meletakkan 3 cangkir teh di atas meja. 

Saya diminta duduk dekat Ummi, berhadapan sama mereka, papa di kursi samping yang terpisah. Dalam hati "Duh,, sudah jam berapa ini, ada saya mau pergi kenapa disuruh duduk lagi?" tapi tetap saya duduk sambil pegang nampan.

Cowok yang kurus berkacamata ini sedari tadi ngobrol sama papa tapi saya gak jelas dia bahas apa, dan seketika itu, dia bilang : "Iya jadi begitu pak, saya sempatji tanya sama dia ini temanku, dimanako kenal Qiah anaknya pak Ismail... dia bilang Fandy yang kasih kenal di facebook bede.., qt kenal Fandy toh dek?" Matanya ke arah saya. Dan saya cuma ha? he? Eng. Dia lanjut lagi bicaranya "Teman angkatan ki semua itu, cuma ini Mannan penempatan pertama belum pernah di Sulawesi."

Dia masih lanjut, "Ini Mannan, temanku, minta tolong sama saya untuk diajak ke sini, Katanya dia sudah kenal anaknya pak Ismail, Waktu na tanyaka saya juga bingung, anaknya pak Ismail yang pertama saya juga taunya dari facebook ji ndak akrab ka, tapi untung sama Bapak akrab ji, jadi saya bantumi ke sini pak... " 

Pokoknya si juru bicara ini menerangkan sejelas-jelasnya tentang keluarga ayahzam, saudara-saudaranya, tanah kelahirannya, prestasi-prestasinya semua dibeberkan di hadapan papa sambil tangannya menunjuk ke arah si cowok yang satunya, yang badannya agak lebar yang daritadi juga cuma diam-diam sambil senyum gak jelas. 

Saya gimana?
Spechless dong. Ini ada apa tiba-tiba gini ?

Inti pembicaraan waktu itu adalah ya, Ayahzam ini mau mengkhitbah saya, ditemani dengan sahabatnya yang akrab sama Papa. Perasaan saya waktu itu campur aduk, karena apa? karena waktu itu saya juga lagi dekat sama oranglain HAHAHAHAHAHAHAH (kalau suami baca ini*paling dia ngejek, merasa menang!! hahaha) Papa cuma mengangguk-ngangguk. 

"Kamu!" Papa menatap matanya ke arah saya, "Memang sudah kenalan kah? sudah lama komunikasi?" Dengan mantap lah saya jawab "Tidak pa..., sama sekali ndak tau..." Sepertinya di seberang kursi, kak Mannan senyum aja 

Papa melanjutkan, "Jadi begitu yaa... kalian belum saling tau, cuma lewat teman ke teman dii? ya... kamu juga orang pare-pare di, keluargamu mungkin saja juga sudah siapkan pasanganmu di sana, siapa tau toh ... jadi saran saya, cari-carimi dulu orang pare-pare."

Itu closingnya! 
Setelah statement Papa seperti itu, menurut pengakuan ayahzam, dia merasa di tolak, setelah semua kebaikan-kebaikan dan kelebihannya dibeberkan temannya di hadapan papa, puk-puk!
Dan kenyataannya, ya saya memang belum pernah sama sekali berteman di facebook dengan ayahzam, waktu saya tanya, liat facebook saya gimana kita gak berteman di FB, katanya sudah sejak tahun 2011an dia kepoin FB saya, tapi waktu itu saya masih sering gonta-ganti pacar dengan nge tag nama pacar di profile waktu itu AHAHAHA ya maklum lah yaaa zaman pencarian jati diri wkwkwkw. 

"Trus kenapaki pade baru sekarang kita datang gitu?" Tanyaku ke ayahzam lewat messenger facebook setelah kami berteman di FB sehari setelah kedatangannya ke rumah. 
"Barupi single status FB ta kuliat jadi baru pa maju..." katanya

Ahh.. kalau ingat masa-masa taaruf waktu itu, sebenarnya lucu juga, kenapa? karena yang agak excited di sini tuh saya wkwkkwkw, weh weh saya cerita ke teman-teman dekat, dan waktu itu saya langsung BBM kakak senior saya yang juga kakak angkatannya ayahzam ini, konsultasinya masa saya disuruh putusin pacar yang se-kantor dengan saya waktu itu dan disuruh wajib terima perkenalan Ayahzam ini. Ternyata setelah pulang dari rumah, Kak Aswan gak berhenti terus melakukan pendekatan ke sahabat2 papa untuk minta bantuannya supaya Ayahzam ini direkomendasikan. Benar saja, sukses! 

Perasaan saya gimana? menyambut atau gimana?
Saya termasuk tipikal cewek realistis sih ya, bukan karena pasrah-pasrahan atau sorry "gampangan" gitu istilahnya, cuma memang saya sejak dulu kalau dibilang pacaran gitu gak pernah sampai masuk ke hati yang paling dalam, gak pernah ada istilah baper, galau, pakai soundtrack segala macam kayak cewek-cewek sebaya saya yang kalau putus sama pacar, pakai susah moveon dan butuh soundtrack yang menyesuaikan dengan keadaannya. 

Dulu bagi saya itu, pacar gak ada bedanya dengan teman, jalan setiap hari, diantar jemput setiap hari, makan bareng ditraktir nonton dibantuin ini itu, mungkin bedanya cuma intensnya komunikasi tentang hati, dan waktu itu saya belum kepikiran untuk memperkenalkan semuanya ke orangtua saya, paling mereka di tolak. Karena apa? ya karena itu orangtua saya juga realistis, yang pasti-pasti aja HAHAHAHA. Jadinya saya ya sebatas status-in aja deh tuh semua, kalau putus ya move-on nya cepat lagi dapat lagi teman dekat, tapi saya biasanya lama ngejawab "Iya mauja jadi pacarta" lebih suka "Jalan maki saja dulu,.." AHAHAHA gak mau terikat banged ya :p 

Pertemuan pertama dengan ayahzam yang bikin spechless itu, berlanjut lagi minggu depannya. Ayahzam datang lagi dengan temannya membawa kue-kue-an yang banyak, di situlah kami mulai ngobrol, tapi gak berdua, ada papa dan ummi yang menemani, serta adik-adik yang ikut nimbrung makan kue. 

Pertemuan selanjutnya, Mertua dan ipar-ipar saya datang ke gowa bertamu, berkenalanlah kami dua buah keluarga. Menjamu mereka dengan makan siang sederhana. Bercerita santai dan  mendapat kesan pertama yang hangat, baru pertamakali berjumpa tapi sudah seperti sahabat lama :) Waktu itu ayahzam sudah di Jakarta, sudah masuk kerja lagi. Ternyata dia datang ke Makassar, ambil cuti hanya untuk samperin papa :D


Kedatangan berikutnya, 30 Juni 2013, perwakilan keluarga ayahzam datang melamar, dan menentukan hari pernikahan kami yang disepakati setelah hari raya idul adha, Oktober tanggal 18. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Pernikahan kami maish terhitung baru, masih muda, dan masih banyak suprise-suprise kehidupan rumah tangga yang harus siap kami sambut. Sekarang sudah ada duozam, kami harus sama-sama saling mengerti, salin gmemahami dan melengkapi, saling melepas ego masing-masing. Berharap sakinah Mawaddah Warahmah. 

Tulisan ini untuk tema #Sannengtalks14 
sampai jumpa di postingan berikutnya ya ^^

You May Also Like

10 comment

  1. Cocok mi kalau pacaran jangan terlalu dimasukan ke hati, wkwkwk takutnya nanti nggak bisa sampai menikah malah patah hati jadinya. Ternyata cepat juga ya proses perkenalan sampai qiah menikah dengan ayah zam, semoga bahagia dan samawa selalu Qiah Dan Ayah Zam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak termasuk cepat alhamdulillah semua keluarga langsung setuju, benar jg itu kalau Allah SWT maha membolak-balikkan hati hehehehhe
      terimakasih kak awie :*

      Delete
  2. Saya selalu senang baca proses sebelum pernikahan, jadi ikut deg2an juga wkwkwkwk btw dulu saya ikuti loh tulisannya Qiah tentang pernikahan, padahal waktu itu belum saling kenal ki :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhh iyakah ?
      makasih banyak kak nanieee :*

      Delete
  3. Ternyata dalam kehidupan nyata ada juga yang seperti ini yaa... Berbesar hati ditaarruf. Alhamdulillah happy ending. ❤ semoga langgeng selalu, sakina mawaddah wa rohmah Qiah & ayahZAM

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak mungkin banyak yg bilang kayak kuci dalam karung atau apalah istilahnya bgitu
      tapi saya alhamdulillah banyak ji lingkaran yang saling kenal jadi bisa saling infokan mana baik mana buruk hehe
      amiin terimakasih infonya kak eRY

      Delete
  4. Kerennya AyahZam, langsung ketemu orangtua, hahaha
    Kalau saya dak bisaka pacaran tidak serius, hahaha, pasti main hati. Karena pacaran bagiku itu mi calon suamiku nantinya, harapannya bakalan kepelaminan ka berdua, kalau ternyata putus ditengah jalan berarti memang bukan jodoh.
    Jadi memang betul, setiap orang ada jalannya sendiri ketemu jodohnya...

    Semoga berjodoh hingga akhirat Qiah dan AyahZam ♥

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa banyak yang sepemikiran kayak dwi juga kok
      kalau pacaran itumi nanti calon suami
      tapi jodoh tergantung individunya jg mau dijemput bagaimana
      biasa ada yg lama banged pacaran tp gak tau apa na tunggu untuk menikah
      hihihihi...
      aamiin makasih dwiii,, doa yg saama buat dwi

      Delete
  5. kak qiahhh,, 😍😍😍..
    berasa pengen toss. sweetnyaa..,, yg disamperin langsung apanya.. sweet sweet...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngehehehehheheeh begitulahhh
      jadi benar memang itu yg baik akan bertemu dengan yg baik
      memperbaiki diri sebelum jodoh menjemput mmg penting ting ting banged:)

      Delete