25 February 2013

Jangan Sampai Kenyang

Assalamualaikum wr. Wb 
Apakabar nih ukhti & akhi sekalian semoga senantiasa dalam lindunganNYA dan tetap istiqomah dalam menjalani keseharian. Amin 
saya akan berbagi cerita kepada kalian, zaman dulu kala (halah.dramatisir*) tentang saya yang “dulu” lebih tepatnya. Sebenarnya malu menceritakan sebagian dari diriku tapi karena kesalahan yang ditutup-tutupi akan membuat hati kita menghitam dan mudharatnya tak akan pernah bisa merasa lagi atau lebih tepatnya menunda-nunda tobat alias mengakui kesalahan. Begini, saya tinggal berdua saja dengan adik saya dirumah yang disediakan orangtua kami sebagai persinggahan selama beraktifitas dikampus, kalau oranglain mengibaratinya sebagai mahasiswa yang nge-kost*padahal bukan*) 


nah... setiap pagi sebelum berangkat kampus, saya selalu sarapan lebih dulu, tak jarang saya sarapan dengan makanan sereal, roti yang isinya berlapis-lapis coklat ataupun keju, susu yang kental-kental. Kenyang. 

Lalu setiba diruangan melewati kantin, membeli lagi beberapa permen, mulai dari permen karet, permen strubucks, wafer, coklat batangan, pokonya snack-scnak yang macam-macam, bahasa terkenalnya itu “ngemil” tiba waktu makan siang, saya kekantin memesan menu yang tersaji, makan sesuai mood, memesan seporsi tapi tak pernah menghabiskannya, selalu menyisakannya, kemudian jam pulang, sore hari mampir ke sebuah cafe atau tempat perkumpulan bersama teman-teman saling cerita sambil menunggu ruas kemacetan kota selesai. Berkumpul itu tak asyik kalau tak memesan apa-apa, jelas saya pun memesan lagi milk shake chocolate dan roti bakar yang dimenu cafe itu. Mencomotnya dan meminumnya lagi. Sesampainya saya dirumah, makan malam bersama adik sayapun begitu, makan dengan lauk yang membumbung.




Suatu hari libur kuliah, saya dan adik berkunjug kerumah orangtua kami, tentu saja membawa kebiasaan-kebiasaaan saya tersebut. Malam hari, ummi sudah menyiapkan makanan untuk makanan malam kami bersama, saya masih asyik didepan laptop sambil ber-haha-hihi, didepan laptop saya. umi menyuruh saa memanggil papa saya di halaman depan, saya beranjak mencoba mencari beliau. kudapati beliau sedang asyik didepan pot-pot yang berisi bunga-bunga dan "bunga yang hanya daun" 

"Pa, makan malam sudah siap," sapaku .
beliau menoleh tapi masih tetap ditempat, "Ya sebentar" kemudian tampak fokus lagi. saya jadi penasaran. tapi yasudahlah. Waktu makan malam dimulai .Memang karena lapar, saya makannya banyak dan lahap sekali. Kalau sudah lapar begini, makanan apa saja yang tersaji dimeja pasti enak. Dan bikin kenyang. Sampai saya bersendawa tak sengaja.

Setelah makan, saat berkumpul diruang nonton, saya ngemil lagi.
Ternyata tingkah saya ini sejak makan tadi diperhatikan Papa.

Papa menngajak saya sholat isha.
Tapi saya bilang, “Sebentar, masih kenyang… biar makananku turun dulu”

Setelah Papa ku selesai sholat.
Dia juga ikut duduk dibelakangku sambil membaca buku.
Beliau berkata, “Sudah tau kau kenapa bunga aglonema Papa mati?”

Egh ? oh rupanya, td papa fokus ke pot-pot bunganya karena ada tanaman kesayangannya yg mati, aku berbalik, menggeleng, “Gara-gara apa?” tanyaku kembali. Papa gak bermaksud menuduhku.


Papa : “Terlalu banyak air kayaknya, Tanaman rupanya kalau disiram terlalu banyak bisa layu dan mati”

saya : “Yaiyalah pa, ada dipelajaran biologiku, cukup sekali-kali saja menyiram tanaman”

Papa : “Yah kalau manusia? kamu juga makan lahap sekali, terlalu kenyang pastinya. sekarang ngemil
lagi… Nafsumu terlalu kuat keluar jadi makan banyak sekali. Terlalu banyak makan bisa
menimbulkan kerasnya hati dan sirnahnya cahaya hikmah. Sementara kenyang hanya membuat
semakin jauh dari Allah. Gara-gara persoalan perut pula Adam dan Hawa diusir dari surga. Tau
artinya ?”

saya nyengir saja.

“Terlalu banyak makan bisa membuat manusia menunda-nunda ibadah.
Sebab badan bisa berat dan mata selalu ingin tidur.
Tidak sungguh-sungguh menginginkan sesuatu kecuali baring, atau tidur.
Bagus kalau waktu kau makan kau ingat orang-orang yang tidak bisa makan seperti itu dijalanan.
Kalau tidak juga wah … di akherat nanti bisa miskin amal!


“Papa rasa kau juga tahu kalau Rasulullah meralang kita untuk kenyang kan?
Perut ada tiga bagian, diisi makanan, minuman, dan udara…”

Aku mengangguk. “Iya tapi kan Laparnya lama tadi kenyangnya Cuma sebentar…”

Papa ketawa. Lalu lanjut lagi.

“Perut itu letanya dibawah hati, ibarat belanga yang penuh dengan air mendidih, yang mana asapnya bisa mengotori hati, semakin banyak asap yang keluar. Hatipun semakin hitam. Membiasakan perut penuh juga menghilangkan kecerdasan…”


Kalau Papa sudah bicara seperti ini, dia melarang secara halus namanya, bukan melarang juga sih, Papa ku paling gak bisa bilang “Lain kali jangan seperti tiu lagi!!” haha… apa sih susahnya. Papa selalu memulainya dengan contoh-contoh. Sangat suka dengan kata “Ibarat”

saya akhirnya berdiri dan hendak sholat isha,
setelah sebelumnya berkata,
“Pa, Maaf Aglonema Papa waktu itu kelindas ban mobil…”

(^_*)">

Jangan membunuh hatimu dengan memperbanyak makan dan minum. Karena hatipun bisa mati seperti matinya tanaman yang banyak air.

==================================

Mengonsumsi makanan secara baik [seimbang] berfungsi untuk menghasilkan energi, mengganti sel-sel tubuh yang tua atau rusak, juga untuk menjaga metabolisme dalam tubuh. Ujung dari ketiga fungsi tersebut adalah untuk menjaga kelangsungan hidup manusia agar bisa menjalankan tugas kehidupannya. Tapi, apabila keseimbangan itu dilanggar, makanan tak mendatangkan manfaat, bahkan akan merusak tubuh. Dalam ajaran Islam, ada diperintahkan untuk makan makanan yang halal dan baik [halâlan thayyiban]. Allah swt berkalam dalam al-Qur’an yang artinya “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” [QS al-Baqarah [2]: 168].

=================================

Jumlah makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan bagi tubuh. Memang, memenuhi selera makan sampai perut menjadi kenyang boleh-boleh saja, tapi tetap saja ada batasnya. Ketika sudah melampai batas itu, mengonsumsi makanan menjadi kurang baik. Setiap orang punya batas yang berbeda-beda, tergantung dari kondisi tubuhnya. Bagaimana menentukan batas itu?

Al-Thabari, salah seorang ulama tafsir, mengatakan, “Meskipun kenyang hukumnya mubah, tapi ia memiliki batasan puncaknya. Jika batasan ini dilanggar, maka hal itu disebut berlebih-lebihan. Yang mutlak dalam hal ini adalah kenyang yang dapat membantu pelakunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dan keadaannya tidak membuatnya berat dalam melaksanakan kewajiban.”

Kenyang dalam batasan At-Thabari dikaitkan dengan aktivitas manusia. Jika kenyang itu masih memungkinkan manusia melakukan aktivitas, kekenyangannya masih dianggap wajar. Namun jika sudah menjadikan manusia malas untuk bergerak dan beraktivitas, maka kekenyangan itu sudah melampau batas. Dalam ungkapan yang berbeda, Ibnu Qayyim al-Jauziyah menentukan batasan konsumsi makanan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi. Menurut Ibnu Qayyim, ada tiga tingkat dalam hal mengonsumsi makanan. Tingkat yang pertama adalah mengonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan. Sabda Rasulullah: “Cukuplah bagi manusia untuk mengkonsumsi beberapa suap makanan saja untuk menegakkan tulang rusuknya”. Artinya, sudah cukup bagi manusia mengonsumsi makanan sampai pada kebutuhan dasarnya. Memenuhi selera menjadi prioritas yang tak utama.

Namun, jika manusia memang berkehendak untuk memenuhi selera makannya, maka Rasulullah melanjutkan sabdanya: “Kalaulah dia harus berbuat, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” Pada tingkat ini, memenuhi selera makan masih dalam tahap yang wajar, masih memerhatikan keseimbangan asupan makanan.

Jika konsumsi makanan sudah melampaui batas keseimbangan itu, dikatakan sudah berlebihan dan sangat tidak baik untuk dilakukan.

=================================

"Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau toh dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk
makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas." (H.R. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim).

"Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan orang." (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darimi).

"Sesungguhnya termasuk sikap berlebih-lebihan bila kamu memakan segala sesuatu yang kamu inginkan." (H.R. Ibnu Majah)

"Seorang mukmin makan dengan satu usus, sementara orang kafir makan dengan tujuh usus." (H.R. Muslim, Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).

Nabi Muhammad saw. juga pernah bersabda, "Kami adalah orang-orang yang tidak makan, kecuali setelah lapar, dan bila makan, kami tidak sampai kenyang." (H.R. Abu Dawud)

Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Alquran surat Al-A'raf ayat 31, "Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

==================================

1 comment: