16 December 2008

PROLOG

Aku sering membuat cerita. Tapi aku jarang menamatkannya, membuat akhir dari suatu cerita adalah hal yang tersulit. Hal yang berkali-kali harus di asah lagi, harus diperiksa lagi, harus dibenarkan lagi dan sebagainya, serta semua harus terasa sempurna. Happy ending… akhir yang bahagia, bila sebuah cerita tidak mempunyai akhir yang bahagia, maka cerita itu belum selesai, pasti dan akan selalu ada kelanjutannya dikemudian hari, sampai sebuah cerita menemukan arti kebahagiaan.
Contoh yang ringan, yang sehari-hari terjadi dikampusku. Seorang mahasiswa lain begitu rajin mengikuti perkuliahan, keaktifannya dikelas sudah menjanjikan huruf abjad A akan bertengger dengan rapi dikertas laporan nilai semsternya (spesifikasi mahasiswa ini ku beri inisial A). Ada juga seorang mahasiswa yang hanya tahu menghadiri perkuliahan tanpa mengeluarkan sepatah katapun tentang materi kuliah hanya datang, duduk diam, pulang (B). Ada pula yang tidak datang tetapi rajin mengumpulkan bahan-bahan kuliah yang terlewat(C), bahkan ada yang tidak datang, dan sama sekali melewatkan semua mata kuliah (Spesifikasi mahasiswa (D).
Sewajarnya si (A) berhak mendapatkan kebahagiaanya dengan memandangi rentetan nilai A di laporan nilai semesternya. Dan si (B) yang tetap bisa merasa bahagia dengan nilai kehadirannya yang bagus, si (C) mungkin agak merasa sedikit bahagia, walau dia tak hadir, tapi dia tetap mengetahui arus kuliah. Berbeda dengan si (D) yang sama sekali tidak bisa merasa bahagia untuk memperoleh nilai yang sama dengan ketiganya, jelas dia kehilangan sebuah nilai bantu untuknya, dia tak pernah hadir, juga tak pernah tau jalannya mata kuliah, tertinggal, itu istilahnya. Tapi apakah (D) adalah sebuah akhir dari cerita? Apakah (D) hanya akan sampai disitu? Tidak! (D) tidak akan dibiarkan lulus kuliah dengan nilai seperti itu, tidak ada seorang mahasiswa yang akan diberi ijazah kelulusan dengan nilai yang belum mencukupi, (D) harus mengulang kuliahnya, memperbaharui sikapnya terhadap mata kuliah agar nilainya lebih tinggi dan memenuhi standar nilai IP kelulusan. Cerita (D) belum berakhir, (D) masih akan berjuang, mengubah nasibnya, mengubah takdirnya, dengan kesempatan yang telah diberikan dan percayalah, kesempatan itu tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Ibarat sebuah nilai yang bagus, angka yang tinggi, dan score yang sempurna akan datang bila kalian berusaha mengerjakannya dengan baik.
Tapi ingat !
Tetaplah berdoa, berharap, dan memohon kepada-NYA untuk mendapat sebuah berkah yang akan membantu segalanya, karena sesungguhnya, kita selalu diawasi oleh-NYA.
Aku adalah seorang mahasiswa yang hanya tahu mendengar dan memahami, tapi seringkali ada pergolakan dalam diriku. Tentang piiranku dan kata hatiku.setiap orang punya pemikiran yang berbeda-beda, tapi aku nobatkan setiap orang mempunyai kata hati yang sama, yaitu ingin bahagia dimasa depan. Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua orang ingin bahagia, bukankah? Nah itu termasuk seberapa jauh usahamu untuk memperoleh kebahagiaan itu. Aku sering berpikir, kita bersekolah hingga kuliah untuk mendapatkan sebuah ijazah agar dapat diterima disebuah lapangan pekerjaan, untuk memperoleh uang dan akhirnya bisa membalas jasa orangtua. Tak cukup sampai disitu, ada lagi tujuan daripada bekerja dan mendapatkan gaji, membina rumahtangga, berkeluarga, dan setelah itu apa? Kita lahir dari sebuah keluarga, dan bila kita telah berkeluarga, memelihara keluarga dan menjaganya dengan sepenuh hati, lalu apa? Oleh waktu, kita akan bertambah tua, memiliki anak, anak kita nanti akan menikah dan kita memiliki cucu, cicit, hingga kita menjadi seorang jompo, diserang penyakit, dan semakin melemah, lalu… kembali padaNya . apakah cerita sudah tamat?
Belum.
Masih ada lagi cerita setelah kita ‘mati’ masih ada jalan yang harus ditempuh untuk mendapat ‘surga’ atau ‘neraka’ bahagia atau sengsara. Menuju bahagia adalah akhir dari cerita, namun bila menuju kesengsaraan, ceritamu hanya sampai disitu saja, sungguh sia-sia. Dan terciptalah sebuah penyesalan yang tiada akhir.
Akan kutuliskan, tentang seseorang dengan perjuangannya untuk memperoleh kebahagian, perjuangannya memperoleh sebuah kesempatan, dan usahanya melenyapkan penyesalan. Kisah jatuh bangun hidupnya dan sepak terjang tentang dirinya, mulai dari keluarganya, bagaimana dia lahir, bagaimana, dia tumbuh, dan bagaimana dia merusaha meraih sebuah kebahagiaan itu. Seseorang ini adalah AKU.
Maksudku bisa saja adalah Aku, tapi apa yang menarik dari mengulas cerita tentangku? Aku hanya anak biasa saja yang berasal dari keluarga yang luarbisa, bukan luarbiasa dari materi atau fisik, tapi luarbiasa dari hati, dari jiwa sebuah keluarga. Aku dengan bangga menyatakan bahwa keluargaku adalah keluarga yang sempurna. Dan kami juga pasti di’paksa’ menanti akhir dari cerita kami. Bahagia atau sengsara.

No comments:

Post a Comment