#SannengTalks 12 Ngomongin Soal Keuangan Rumahtangga

Salaam semua
Postingan #SannengTalk kali ini agak sok-sok lah ya hahaha tapi perlu teman-teman sekalian ketahui, wanita yang sudah berstatus istri, apalagi, ibu, wajib hukumnya tau akuntansi. Karena saya nih ya mau tidak mau, sadar atau tidak, ternyata saya sedang belajar akuntansi tiap hari. Jadi manager keuangan rumah tangga saya sendiri.

Waktu masih anak-anak, kalau mau ke sekolah minta uang jajannya sama Ummi pasti kan? Yang megang uang itu sepenuhnya adalah Ummi. Semenjak saya menikah, Ummi sudah ceritain tuh tentang sistem manajemen keuangan rumah tangga ala beliau. Jadi semua gaji papa yang sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) di serahkan ke Ummi, jaman sebelum ada ATM, papa bawa uang cash ke Ummi dan semua uang yang masih dalam amplop itu diserahkan ke Ummi. Papa cuma dapat jatah bulanannya aja untuk akomodasi. Dengan catatan ya semua kebutuhan rumah tangga ya Ummi yang atur.

Nah, saat menikah saya masih berstatus sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar di Makassar, gaji bulanan saya pakai untuk belanja apa yang saya mau, mulai dari shoping baju, alat makeup, gadget, aksesoris, sampai nongkrong sana-sini memanjakan lidah. Ini salah satu keasyikan saat gajian hahaha. Dan seketika sebulan setelah menikah, saya hamil. Suami minta saya resign. Well ya awalnya shock, kebayang kalau semua hal yang pengen saya beli sesuka hati itu gak bisa lagi saya lakukan. Tapi karena perintah suami sih ya, lebih wajib ikut suami yang waktu itu masih merantau di Jakarta. 

Awal pernikahan saya tidak memegang semua gaji suami, bukan karena suami gak ngasih, tapi saya takut ketamakan dan kerakusan serta keborosan hidup saya kumat! HAHAHaha... ~ 

Jadi Gimana Pengaturan Keuangan Ala Kami ?



Kita semua sudah tau kan berdasarkan fatwa ulama, disepakati kalau pendapatan atau gaji suami adalah milik istri. Sedangkan uang istri yang didapat dari pekerjaan yang dilakukannya adalah milik istri dan tidak ada hak bagi suaminya sedikitpun. HUEHEHEHE // Fatwa favotire  :P Kita tau juga kalau seorang suami itu wajib menafkahi istrinya. 


Kenyataannya bahwa uang suami otomatis menjadi milik istri, bukan hal yang musti-musti banget loh. Memberi nafkah istri sesuai kemampuan memang menjadi kewajiban suami. Tapi bukan berarti ngasih semua uang 100% ke istri, cuma dibilang kalau ada hak istri juga. Saya sering baca artikel keuangan, sampai pemahaman saya, uang belanja yang kita kenal selama ini untuk keperluan rumah tangga dibantu untuk diatur oleh istri, itu benar. Tetapi bukan kewajiban. Yang wajib bagi suami adalah memberikan nafkah ( makanan, pakaian yang layak dan sesuai kemampuan ) buat istri dan anak-anak dengan baik dari penghasilan secara halal dan thoyyib. Correct Me If Iam Wrong.

Nah, beda lagi dengan beberapa keluarga saya nih yang beranggapan "Kalau suami yang pegang uang, suami itu pelit! Gak berkah, karena dompetnya disimpan di kantong belakang celananya" HAHAHAHA.. sering kan dengar ceramah kek gitu? 
Iya kalau suaminya gak tau akuntansi dan ilmu managemen, behehehe.. 
Seperti sistem Ummi dan Papa saya tadi, (bukan berarti papa ga ngerti management sih ihihi) nafkah suami kepada istri adalah biaya kehidupan rumah tangga atau uang belanja aja. Pemandangan sehari-harinya adalah suami pulang membawa amplop gaji, lalu semua diserahkan ke isterinya. Cukup atau tidak cukup, pokoknya ya harus cukup. 

Kalau kayak gitu kebayang gak sih kalau kemudian si istri pusing tujuh keliling, gimana ngatur dan nyusun anggaran belanja rumah tangga. Kalau si istri orang yang hemat pangkal pandai ngatur pemasukan dan pengeluaran, kayak Ummi ya suami tentu senang, semua bahagia, aman sentosa. 

Kalau istri justru kacau balau dalam ngemanage keuangan, gimana? kayak saya yang nikah tanpa bekal ilmu managemn keuangan rumah tangga sebelumnya. (ya kali kepikiran wkwkkw*)
kayak saya yang hobbynya belanja baju kiri kanan, nongkrong sana-sini, pun aktif arisan, kwkwkwk tetiba disuruh atur keuangan rumah tangga. Yang ada nanti suami saya pusing tujuh keliling karena semasa hidupnya, keuangannya damai tanpa guncangan ombak wanita shopaholic. 

Awal menikah, ya! Suami saya pegang gajinya sendiri, saya hanya diberi "uang jajan" per bulan. 
Kalau keseluruhan gaji suami diatur sendiri sama suami memang ya sudah seharusnya kayak gitu sih menurutku. Kalau ada yang diserahkan sebagian uang belanja untuk diatur istri dibolehkan. Suami yang baik, bakalan ngajak diskusi sebelum ngasih uang belanja, dan tanya-tanyakan ke istri apa saja yang jadi ketentuan dan amanah apa aja yang bisa dilakukan istri untuk dititipkan pembayarannya.  Pembayaran listrik kah? kontrakan rumah kah? dan lain sebagainya,kalau gak dititipkan, atau suami yang langsung bayar tuh semua pengeluaran rumah tangga ya inipun hal yang wajar. Bukan dikata suami pelit, gak percaya sama istri.

"Suamiku sayang, betul itu uang panaikku kemarin uangta sendiri?"
"Heheh, iye..."
"Berapa tahunki itu nabung?"
"Mulai kerja,"
"Bisa ta di' nabung..."
"Qt nda nabung memang kah sayang?"
"Ndak, kalo gajianka, ya habismi langsung sebulan"
Suami langsung pasang ekspresi shock dan seketika itu-saya-tau-dia pasti menyesal nikah sama saya. doi ketawa! perempuan kok gak bisa nabung!

Tapi serius, saya gak punya harta apa-apa saat menikah dengan suami, kecuali kamera, hape, laptop pemberian papa, serta seabrek fashion & beauty item. Setelah Papa menyerahkan saya kepada suami, ya bulan berikutnya semua keperluan saya harus suami yang beliin, bayarin, dan sebagainya.

Awal nikah, kami berdua stay di Jakarta, saya gak tau dong kehidupan di Jakarta butuh apa aja kalau sudah suami-istri gitu, saya gak tau nomor rekening bapak kost, saya gak tau bayar pajak dimana, waktu itu kostan belum ada dapurnya, beli makan di luar aja, lebih hemat malah ya hehe. So, ya saya cuma dikasih uang jajan bulanan, saya mau beliin apa aja itu terserah saya :D dan saya seketika merasa kembali jadi karyawan digaji bulanan tanpa perlu masuk kantor wkwkwkwkwHAHAHAH. Suami ngasih sih ATM dimana seluruh gajinya di transfer kesitu, tapi saya tetap minta untuk simpan uang yang untuk saya di situ, sisanya di pindahkan ke rekening rumah tangga kami. Ya bank account kami gak cuma satu, biar ga berantakan. Ini juga suami yang atur. Dan serius saya gak tau berapa-berapanya pengeluaran. Pemasukan ji kutau :p

Satu hal aja yang suami saya tegaskan, kalau mau sesuatu, jangan nyicil, jangan ada credit card dalam rumah tangga kita. Kalau mau, nabung sampai cukup, kemudian beli langsung bayar lunas.
Saya iya-in aja ini. HEHEH alhamdulillah sampai sekarang kami berhasil menepis segala godaan tawaran-tawaran kredit. Meskipun itu termasuk pembiayaan termudah untuk rumah tangga yang berpenghasilan sebagai PNS. Yang ditekankan di sini tuh ya biar istri hemat dan gak banyak mau, tapi ini secara halussss bin halusss banget hahahaha. Mau ini itu, iya nanti kalau uangnya sudah cukup ya :D dilatih juga bersabar, untuk mengupayakan bahawa keinginan itu tidak sama dengan kebutuhan.

"Suamiku sayang beliin lensa ini, besok ya... kredit pakai bank B aja ada promo"
"Sama aja sayang, mending langsung cash ndak qt pikir mi bulanan-bulannya"
"Iye sayang? ada uangta?"
"InsyaAllah ada, nabungmaki, ya 2-3 bulan bisamaki beli itu"
"Hmmm.. tabungkan ma pade nah, hihihi kalau saya, habiski nanti"
"Iyee..."

Tuh, kayak gitu tuh, saya merasa uang tabungan masa depan rumah tangga kami, aman di tangan pak suami, karena pak suami itu bukan tipe lelaki yang sedikit-sedikit ngeluarin duit buat hal-hal yang tidak perlu. Gak kayak saya, yang di telapak tangan ada tahi lalat yang artinya uang gampang kabur.

Kalau memang mau cermat ya sebenarnya yang namanya nafkah itu memang harusnya ‘bersih’ jadi hak istri, di luar biaya makan, pakaian, bayar kontrakan rumah dan semua kebutuhan sebuah rumah tangga. Tapi jadi istri jangan ngoyo juga pengen terima "Gaji Buta" tugas dan tanggung jawab kerja istri banyak dan sepertinya gak perlu saya jabarkan panjang di sini hehehe.

Jadi begitulah saya di awal membina rumah tangga, semua di"aman"kan sama suami. Proses lahiran, bolak balik Makassar-Jakarta, dan ngeboyong anak-anak ke rumah dinas. Di ATM sudah ada dua jenis nafkah nih, bersih untuk saya, dan satunya lagi belanja bulanan untuk keperluan suami dan anak-anak serta catering.  Jadi saya mulai belanja ke supermarket nih untuk isi-isian toilet, alat dapur, garden tools, susu, popok dan pangan anak-anak. Alhamdulillah bisa terkendali. Akomodasi dan hal-hal lain untuk hiburan. serta tabungan, masih suami yang handle. 

Saat suami mutasi Makassar, dan akhirnya sampailah ke perbedaan kebutuhan saat berumahtangga di Jakarta dan di Makassar. Semua uang masuk, saya yang pegang. Di sini saya benar-benar sudah merasa jadi Ibu rumah tangga seutuhnya. Saat mulai mengelola keuangan rumah tangga itu sendiri.
Saya menerima seluruh uang yang masuk ke rekening suami, saat semua kebutuhan primer sekunder sudah terpenuhi, seperti rumah tinggal, mobil, gadget, dan sebagainya. Tapi secara garis besar, saya tetap hanya membagi dua bank account kami. Nafkah istri yang "bersih" di amankan duluan WKWKWKWK.
Nafkah untuk istri buat apa aja sih ? ya buat me time istri dong, biar bahagia dan tetap waras [halah] hehehe. Tapi jangan juga egois sih, jujur saya selama ini belum pernah beliin suami apa-apa yang memang murni pakai uang saya, ya kalau cuma shampoo, cuci muka, baju dan celana sih iya dibeliin tapi pakai uang bersama HAHAHA. Jadi gantian, saya yang memberi suami uang jajan bulanannya. Hal-hal rumah tangga sepenuhnya sudah saya. 

Bagaimana mengatur itu? Pusing gak?

Banget! bulan pertama pegang keuangan, ribet! saya gak bikin catatan apa-apa, dan suka lupa, debet card berapa dan buat apa, bahkan istilah "bocor halus" juga pernah saya alami, di Makassar saya mulai menjual jasa sebagai fotografer dan graphic designer, saya punya pendapatan sendiri meski gak seberapa sih, ya buat relaksasi diri aja, tapi ketika uang saya terpakai untuk belanja rumah tangga dan kebutuhan anak-anak, bukannya pelit, saya merasa itu sudah kacau, dan ga becus saya ngatur-ngaturnya. 

Akhir bulan saya biasanya sudah minta tambah sama suami, suami ngasih tapi ambil dari tabungan kami. Beberapa bulan seperti itu, saya merasa ini juga bocor halus deh ini namanya. Ngeluh ke suami, saat suami tanya abis beli apa saja dan bayar apa aja? Saya gak punya catatannya. Suka lupa kalau ditanya. Suami cuma kasih peringatan "Itu namanya minus sayang, hehehe..." Ya ampun ini namanya besar pasak daripada tiang! Saya minta suami untuk balikin sistem keuangan kita kayak dulu. Suami aja yang pegang! Tapi suami kekeuh minta saya harus bisa! 

"Coba dicatat-catatmi dulu sayang, berapa pengeluaranta, beli apa dan apa catat saja"

Akhirnya saya mulai membiasakan untuk mencatat pengeluaran, belanja apa saja semua saya catat, termasuk rutinan perbulan online shop dengan maksimal budget yang sudah ditetapkan hihihihik. Semua saya catat, bensin, air galon, sampai biarpun itu jajan duozam di indomaret. Hasilnya? Tetap minta tambah WKKWKWKWWK. Saya mulai intropeksi dengan sendirinya, apakah banyak pengeluaran yang gak penting? Memang iya sih HAAHAHAH. 

Saya tetap berusaha ngatur-ngatur lagi, sekarang pakai sistem amplop bulanan. Narik uang untuk pengeluaran habis pakai dalam sebulan, kemudian semuanya saya bagi dan atur dalam amplop masing-masing, saya amankan bae-bae tuh amplop biar jauh dari jangkauan saya. WKKWKWK. 

Sistem isi amplop bulanan, itu berhasil ... setidaknya tidak lagi ngambil dari uang tabungan/investasi kedepan, dan sudah bisa nabung normal seperti sedia kala. Dalam hati saya bergumam, ya ampun saya bisa akuntansi :p
Isi amplop bulanan, isi tabungan, isi rekening sendiri, Ingatkan suami untuk ngasih ke mama aji (mertua saya), naikin uang jajan suami, ahhh ternyata bisa, Alhamdulillah. 

So, ya begitulah cerita tentang keuangan rumah tangga ala saya hehehehe, pakai sistem jadul, diamplop-amplopin gitu. Ada kalanya saya pengen kayak Ibu Athirah, yang punya usaha sendiri dan berinvestasi dengan emas, ketika suami bilang "tidak punya" atau "tidak ada", Ibu Athirah bilang "Saya punya..." 

Sebenarnya keuangan rumah tangga itu, dimata suami, biarkan mengalir apa adanya saja, yang mencukupkan rejeki ummat adalah Allah. Asalkan jangan lupa untuk bersedekah. Jangan bohong bilang tidak ada ketika ada yang memang minta bantuan, jangan pelit untuk berbagi ke keluarga. Tanamkan dalam hati kalau insyaAllah apa yang dikeluarkan semoga bermanfaat dan berkah untuk yang menerima, dan semua rejeki akan kembali dalam bentuk yang berbeda dan lebih baik. 

Asalkan kita terbuka untuk saling berkomunikasi tentang keuangan rumah tangga. Tanamkan juga pengertian bahwa nafkah suami untuk kebutuhan hidup, bukan untuk gaya hidup. Heheheh sudah sering nih quote berseliweran di timeline sosmed. 

Kalian penasaran juga gak, bicara tentang uang ala kak Ery?
kepoin juga nanti blog teteh Awie, yang bahas soal keuangan rumah tangganya 
sampai jumpa di #sannengtalks berikutnya

You May Also Like

16 comment

  1. Samma donk kita! Suami lebih bisa atur pengeluaran. Hehehee... Makanya saya rada malas disuru atur, karena kalo habis, malas mintanya lagi karena pasti ditanyain kenapa cepat habisnya. Huhuhuuu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha iya kak pernah jg waktu minta ditanya bgitu sy nda punya jawaban wkwkwkw jd akhirnya disuruh catat2 pengeluaran wkwkw bikin malas mmg😅 Semangattt ah kita 💪🏽😍

      Delete
  2. Aku termasuk yg pegang keuangan penuh di rumah :p. Suami kerja, pas gajian, atmnya tinggal aku pake utk pindahin srmuanya k rek ku. Aku jg kerja, jd nanti gaji kita berdua digabung, itulah yg aku kelola supaya cukup utk srmua kebutuhan plus tabungan :D. Alasan suami kenapa 100% uangnya di ksh ke aku, itu krn dia ga suka megang duit. Dr kecil suami memang ga suka pegang duit mba. Pernah dulu pas SD kls 2 diksh uang jajan utk pegangan pas dia outing ama temen sekolah, uangnya malah dibuang pas outing selesai hahahaha.. Katanya, "kan mama bilang utk pegangan. Udah seleaai toh jalan2nya. Ya aku buang, udh ga perlu" wkwkwkkwkw.. Ntah aku beruntung ato ga ya, dpt suami alergi duit hahahahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahahaha suaminya lucu banget mbakk 🤣😂😂
      Oh jadi semua digabung aja gitu ya mbak mmg sih katanya klo soal keuangan rumah tangga ga perlu egois2an , saling melengkapi aja semuanya. Makasih comment nya mbak 😍🙏🏼

      Delete
  3. heii para manager keuangan rumah tangga, saya juga awal nikah di Bali masih kerja tapi langsung dikasih semua uang gaji saya yang pegang. sepenuhnya saya yang atur. Uang bensin sama uang makan suami ditanggung kantor. saya juga pake tuh sistem duit istri milik sendiri, duit suami milik bersama plus ada jatah uang jajan untuk me time istri. sampe pindah Makassar juga masih gitu sistemnya. Tapi uang sekolah anak, liburan, uang makan-makan di kafe, sama beli gadget, tidak termasuk dalam gaji. Karena suami Alhamdulillah masih punya sumber lain diluar kerjaan kantor. Juga saya yang sesekali masih menghandle kerjaan desain. workshop furniture sudah kututup karena banyak stres naik ki tekanan darah tinggiku.Jadi sebagai istri kita harus pinter 'kempeskan' suami hahaha... supaya uang diluar gajinya jangan sampe lari ke luaar dari rumah tangga. Nice sharing Qiah sayang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh imom 😍😍😍😍 terimakasih sharing pengalamannnya imom .. love u full dahhh 😘

      Delete
  4. saya sukaaa caranya qiah mengulas.. heheh

    tossss juga, saya dan suami anti kredit kecuali rumah itupun tertipu hiksssss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahhh kenapa bs ketipu kk syangg?? Anggap aja ujian untuk dpt banyak2 kebaikan lain yg datang ke rumah.
      Kalau saya rumah dulu pakai rumah dinas, sampe makassar sudah disiapin dlu tempat tinggal smntara pelan2 beli bahan bangunan u/bangun rumah sendiri.

      Makasihh ka unna sudah mampirr..

      Delete
  5. Saya suka sistem amplop. Lebih terarah hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betull mbakkk 😍 Lg menerapkan ini dan alhamdulillah ga minus2 lg

      Delete
  6. Nyenengin banget bacanya Kak Qia, hihi. Penutupnya mantab :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. huehehhe thankyou Niaa..
      selamat ngatur2 keuangan rumahtangga ya uhuhy
      ibu perpajakan mah gampil ya hehe

      Delete
  7. ngatur keuangan rumah tangga itu nggak gampang mba, ngabisinnya mudah nabungnya susah.Dari banyak tips yang saya baca dan terapkan saya lupa dua hal : komitmen dan konsistensi. Soalnya percuma nerapin tips gimana pun kalau gak komitmen kuat di awal dan konsisten nabung ga bakal kekumpul juga :P

    ReplyDelete
  8. duuuh kaaak samaaa banget ih, uang kalau saya pengang cepet habis, hahaha entah buat apapun, tapi harus belajar yaaa ngatur keuangan, perempuan kok gak bisa nabung. wahahahahah

    Keren ulasannya kak :D

    ReplyDelete
  9. Kalau keuangan rumah tangga di kelola berdua, saya bagian kebutuhan rumah seperti belanja bulanan, bayar sekolah anak dan kebutuhan makan. Sementara suami yang bagian ngatur uang buat bayar listrik dkk.
    Karena saya gak bekerja kantoran, jadi sepenuhnya gaji dari suami. Kalau pas sisa gaji dr suami ngepas dan saya punya penghasilan, ya dipakai buat sulam-tambal hehehe.
    btw salam kenal ya mbak :)

    ReplyDelete
  10. Waduh qo sama ya, saya juga paling malas mencatat pengeluaran. Selama masih ada uang di atm, artinya masih bisa santai 😂😂 = Hukum ekonomi ala awie.
    Menjadi istri itu memang nggak mudah, tapi bukan berarti susah juga. Asalkan mau belajar, urusan lap. Keuangan keluarga pasti bisa ditaklukan. Tiap hualn bikin laporan ala2 ledger debit credit, di attch. email ke suami. Yuhuu biar suami makin cintrongg 😁😍.

    ReplyDelete

recent posts