15 December 2015

Seminar Hari Ibu Oleh Jameela Hijab Community

Assalamualaikum wr.wb 
Awal bulan Desember, saya menerima undangan untuk menghadiri sebuah seminar motivasi pencerahan dalam rangka menyambur peringatan hari "Ibu" iya bulan yang jadi penutup tahun ini sudah dipatenkan sebagai peringatan hari Ibu di Indonesia. Untuk itulah komunitas Jameela Hijab mengadakan seminar ini. Dengan mengundang pembicara, yaitu Prof Hamdan Juhannis, Ph.D. untuk bedah buku "Melawan Takdir" dan Ibu Dr.Ir.Hj.Andi Majdah M. Zain, M.Si. untuk memberikan pencerahan pembangunan karakter seorang Ibu.
Acara dimulai pukul 12.30 Wita, tapi saya datang dua jam setelah acara dimulai, haha telat banget ya, jam karet terus huhu, bagaimana sih ya soalnya ada urusan dulu di jam yang sama dengan jam mulainya acara, tapi ngebet mau datang soalnya mau silatuurrahim sama para ibu-ibu komunitas Jameela Hijab. Nanti saya ceritakan tersendiri ya tentang komunitas Jameela. Postingan ini khusus untuk acara seminar Hari ibu dulu. Lokasi acaranya di Jl. Hertasning, di kediaman Bapak Palaguna, Ballroom SAO bittara namanya, lokasi ini terletak diantara black canyon cafe dan tri store. Jadi pukul 14.00 saya tiba, diajak masuk dan saya sudah mendapati beberapa tamu undangan sedang khidmat mendengarkan Prof Hamdan berbicara. Suasana seminar lesehan, memberi kesan homey dan akrab.

Prof. Hamdan Juhannis ini adalah seorang professor termuda di Makassar loh, beliau menerbitkan banyak buku, tapi buku yang dibedah di acara ini adalah buku yang dengan judul "Melawan Takdir". Melawan Takdir adalah  buku Otobiografi motivasi. Terbit pertama kali pada Juli 2013, Melawan Takdir bukanlah karya tulis pertama yang berhasil diterbitkan beliau. Jauh sebelum menulis otobiografi motivasi tersebut, Prof Hamdan sudah aktif menulis berbagai opini diberbagai koran di Makassar. Beliau menceritakan bagaimana menjalani jalan panjang kehidupan dengan kerja keras. Menurutnya, Kebahagiaan itu bukan dihitung dari kesuksesan. Tapi kebahagiaan itu adalah sebuah kebermaknaan hidup

Ada satu sesi, Prof Hamdan ingin menunjukkan bagaimana sebuah proses kebiasaan itu sulit sekali diubah. Beliau mengajak empat orang ibu-ibu untuk naik keatas. "Kalau saya bilang besar, ibu-ibu ayunkan dua-duanya tanganta nah! kalau saya bilang kecil, datte' (lentikkan) saja jarita" perintah Prof Hamdan.
Saat itu ibu-ibu yang di atas langsung mengikuti perintah dengan cepat dan tepat. Tapi saat Prof Hamdan membalikkan katanya, "Sekarang, kalau saya bilang kecil, ibu-ibu ayunkan kedua tangan, kalau saya bilang besar, datte' jarita nah, balikkan!" 
Semua tampak kebingunan lebih dulu sebelum menjawab sesuai perintah, lambat dan belum tentu tepat. "Seperti itulah kebiasaan yang bilamana mau diubah, sulit!" terang Prof Hamdan.

Di sesi terakhir, dengan gaya yang berkesan serius tapi santai, Prof Hamndan memaparkan dan bercerita tentang bagaimana Ia berhasil membelikan Emma'nya (Ibunya) sebuah Bolla (rumah) ditahun 90-an. Juga tentang beliau mengenal pacaran setelah menikahi wanita pujaannya dan mendapatkan dua orang putri. 

Inti dari Motivasi yang diceritakan prof Hamndan adalah beberapa poin penting dari bukunya, antara lain : 
  • Keberhasilan adalah satu persen kecerdasan, 99% kerja keras.
  • Jangan terpesona dengan hasil, tetapi bijaklah untuk belajar tentang prosesnya. Karena perubahan itu butuh proses.
  • Proses adalah budaya yang perlu ditradisikan ke generasi kita. Anak harus berproses agar tidak mengenal sesuatau yang serba instan, serba cepat.
  • Kunci utama kesuksesan adalah pengabdian kepada kedua orangtua.
  • Sukses itu dimulai dari mimpi, bermimpilah selagi mimpi itu gratis.
Kak Yuyun, selaku MC mengucapkan terimakasih kepada Prof Hamdan yang telah selesai memberikan motivasi kepada kami semua yang hadir. Kak Yuyun juga menyebutkan poin-poin penting dari pemaparan Prof Hamdan tadi. Kemudian membuka kembali ruang untuk pembicara berikutnya, yaitu Ibu Dr.Ir.Hj.Andi Majdah M. Zain, M.Si yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari wakil gubernur sulawesi selatan. Sosok Ibu Majdah yang sederhana pun maju ke depan untuk berbicara memberikan inspirasi dan pencerahan pembangunan karakter seorang ibu.

Ibu Majdah memulai dengan mengingatkan kami semua dengan ayat Qur'an surah Al-A'raf ayat 11 tentang apa yang sudah disampaikan Prof Hamdan tadi, yang artinya : "Allah tidak akan mengubah nasib suatu ummatNYA, sebelum Ummat itu sendiri yang mengubahnya." Duhai, suara Ibu Majdah ini lembut sekali, siapapun yang mendengar jadi tersentuh dan khidmat mendengarkan. Ibu Majdah menghimbau bahwa ada potensi besar yang Allah titipkan untuk kita asah, sebagai manusia kita tidak boleh berlemah diri dan sekedar berpasrah, tidak ada kata pasrah, yang ada hanya berserah diri kepada Allah. Tapi itu dilakukan setelah kita berikhtiar usaha dan do'a

Kemudian, Ibu Majdah masuk ke topik yang akan beliau bahas. "Perasaan bersyukur itu harus dimiliki oleh seorang ibu" ucapnya lembut. Kita tidak mampu menghitung segala kenikmatan yang Allah berikan. Bersyukur bukan karena ada harta, karena kecantikan, karena kesenangan, tapi bersyukur karena masih mampu menghirup oksigen_bernafas.

Kunci keberhasilan seorang ibu itu adalah kesabarannya dalam membesarkan dan mendidik anak. Seorang ibu harus memiliki karakte. Apa itu karakter? Karakter sesungguhnya adalah, akhlak, iman, dan takwa. Kalau seseorang sudah memiliki karakter, Akan lahirlah sifat kejujuran, sifat kedisiplinan, dan rasa bertanggungjawab terhadap amanah yang diberikan.
Lebih lanjut lagi, Ibu Majdah menjelaskan tentang bagaimana seorang ibu menumbuhkan anak yang memiliki karakter (Akhlak, iman dan takwa) ? Tentu saja, Ibu itu sendiri harus membentuk karakternya sendiri lebih dulu. Ibu harus jadi penyabar, tidak sering mengeluh, karena zaman anak kita berbeda dengan zaman kita dulu. Beda zaman, beda karakter.

Apa yang ibu Majdah sampaikan tentang kesabaran seorang ibu, memukul saya. Saya masih punya emosi yang labil saat menghadapi bayi saya yang menangis, merengek tanpa alasan, teriak, dan entah maunya apa dan bagaimana. Paling sering emosian kalau jam ngantuk, anak rewel menangis, dikasih susu tidak mau, di situ puncaknya emosi kita diuji, saya yang terbilang baru menjadi ibu juga merasakan emosi itu, geram dibuatnya! kadang saya memukul guling, menggigiti bantal. Tapi untunglah saya tidak sampai baby blues atau sampai pada tingkatan mencuekin anak, depresi, bahkan sampai memukul. Cepat-cepat saya istigfar, menjaga kedamaian hati, membayangkan kembali senyuman dan tawa anak saya. Meski badannya meronta-ronta, tangisnya berketerusan, saya berusaha untuk tetap sabar. Menggendongnya, mendekapkan bayi saya ke dada saya, dan mengajaknya bercerita, berharap dia segera tenang.

Ketika salam penutup diucapkan ibu Majda, "Susah tapi bisa, itu motto ibu-ibu hebat!" MC pun kembali melanjutkan dengan membuka sesi tanya jawab. tiga orang penyanya, termasuk saya. Saya bertanya tentang, bagaimana menyikapi orangtua yang tampak memanjakan anak kita? maksudnya, sang Kakek dan Nenek terlalu memanjakan cucunya, apakah kelak akan berpengaruh terhadap pembangunan karakter anak? dan saya sendiri sebagai anak, bagaiaman sebaiknya saya "melarang" hal itu ke orangtua?

Pertanyaan saya dijawab Prof Hamndan, katanya "Sering-seringlah berdiskusi dengan orangtua." cuma itu sih, belum puas rasanya hahaha! tapi saat acara dinyatakan selesai, sesi penyerahan cinderamata dan foto juga sudah dilakukan, Ibu Majda menarik saya, "Mbak yang bertanya tadi tentang karakter anak yang dimanjakan? saya mau jawab tapi waktu sudah habis, hehehe" kata beliau santun. 
"Jadi... anak itu terlahir di dunia bagaiakan kertas putih, kosong isinya. Lingkungannya lah yang membantu mengisi..." lanjut ibu Majda. Beliau menjelaskan, menjawab pertanyaan saya dengan sungguh-sungguh, sepertinya beliau merasa kalau saya belum puas atas jawaban Prof Hamdan, yang belum ber-cucu, kalau ibu Majdah mah sudah bercucu, hehehehe.... Intinya memang, karakter anak itu dipengaruhi di lingkungan mana anak itu berada, seorang ibu harus selalu mengupgrade ilmunya sebagai bekal menjaga anak dari lingkungan yang akan menjauhkan dia dari karakter utamanya, Akhlak, iman dan takwa. Tentang kakek neneknya, memang seorang ibu harus sering berdiskusi dengan siapa saja yang berada di dekat anak kita. Ibu itu protector. Tapi yang harus diingat, jangan pernah merasa lebih pintar di depan orangtua, pelan-pelan dan tetap berlakulah sebagai seorang anak yang shalehah.
Salut dan terimakasihku kepada Ibu Majdah AN yang lemah lembut dan baik hati. Alhamdulillah bisa menyempatkan hadir di event ini, berkat Komunitas Jameela yang mengadakan dan mengundang. Bersyuklur bisa mendapat siraman motivasi dari dua narasumber luarbiasa. Sesi paling akhir dari yang terakhir, adalah selfi-selfie ehehehhehe.
jazakallah khairan katsir Jameela
ditunggu undangan event yang lainnya ya ^^
wassalam

6 comments:

  1. waduuh, jauh bgt di Makassar, kirain di jakarta :)

    ReplyDelete
  2. Mbak qiah udah eksis lagi di makasar ya sekrang :D

    ReplyDelete
  3. berkomunitas sekalgus mendapat ilmu ya

    ReplyDelete
  4. mbak Kania : hahah iya mbak udah jauh lagi di Makassar nih hehehe

    mak Tetty : wkwkw eksis eung haahhaha..

    mbak Lidya : betul mbak, bermanfaat ^^

    ReplyDelete
  5. wah ...ibu madjah sudah bercucu?keliatan awet muda ya

    ReplyDelete
  6. Eh mau komen seperti Islah hihi
    *ilang fokus*

    Kalau sama orang tua memang suka serba salah. Orang tua memang tidak suka kalau kita terlihat sok tahu walaupun orang tua belum tentu benar. Begitu juga pengalaman saya.

    Tapi karena memang saya dan suami yang benar2 mengurus anak, bukannya orang tua saya (hanya sesekalis saja saya titip kalo suami tidak bisa menjaga di rumah), lama kelamaan orang tua tahu juga kalau ada "batasan" di mana kami berperan lebih daripada mereka ... tapi yaah ... perjuangan juga

    ReplyDelete