16 October 2015

Lasugi atau Wala Suji

Assalamualaikum, readers :)
Dalam rangka menyambut hari Anniversary pernikahan saya yang ke dua tahun, saya mau menuliskan kembali tentang proses "ribet" dan "seru"nya segala sesuatu persiapan menjelang hari pernikahan saya, hari dimana saya akan memasuki kehidupan baru. Excited dong? iya lah soalnya masih serasa gak percaya, akhirnya menikah!! atau menikah juga saya!! HAHAHA* dan yang paling penting adalah, alhamdulillah ada seseorang yang dengan jalan halal mempersunting saya menjadikan saya sebagai seorang istri. 

Beberapa hari saat masuk bulan Oktober, di sosmed saya sudah share kembali sih mengenai proses pembuatan undangan dan cerita dibalik design undangan saya, postingannya di sini nih :) selain itu ada juga saya menulis tentang adat mangerang undangan (adat membawa undangan).

Nah kali ini saya mau menuliskan yang kelupaan saya bahas, hehehe sudah lama saya mau bahas ini, tapi masih kurang bahan tulisnya, soalnya kalau saya wawancara ke para Datok saya, pakai bahasa mangkasarak jadi agak sulit saya tuang ke dalam EYD hahaha! tapi bersyukur kali ini sudah ada, karena bantuan dari beberapa teman-teman di group Anging Mammiri, blogger Makassar ^^

Bagi yang pernah menghadiri suatu hajatan pernikahan orang Makassar atau Bugis, pokoknya di Sulawesi gitu, pasti pernah liat suatu Baruga (gerbang) yang menjulang tinggi seperti bangunan mini di depan pintu masuk kediaman pengantin kan? nah gerbang ini dikenal dengan nama Lasugi (orang Gowa menyebutnya begitu) atau Wala Suji (Orang Bugis menyebutnya begitu). 

Lasugi ini terbuat dari anyaman bambu. 

Kenapa lasugi harus menggunakan pohon bambu? karena pohon bambu dipercaya memiliki makna filosofi. Pohon bambu adalah sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna, yakni pada saat proses pertumbuhannya. 

Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya. Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang. Lebih jauh memahami filosofi pohon bambu tersebut, dihrapkan sama dengan kehidupan sang pengantin nantinya.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, lasugi, dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang. Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah keberanian, kebangsawanan, kekayaan, dan ketampanan atau kecantikan.

Proses pembuatan lasugi pernikahanku waktu itu memakan waktu dua bulan, HAHAH Lama ya!!! meski pengerjaannya bersama-sama, tetap juga dikerjakan agak lebih awal sebelum persiapan lain disiapkan. Mungkin sebagai tanda kalau di sini, di rumah ini akan ada hajatan pernikahan. Kemudian anyaman lasugi ini formasinya disebut dengan Sulapa appa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah

Lasugi ini hanya dipakai pada acara pernikahan atau pesta adat bagi warga Sulawesi Selatan yang masih memegang teguh adat setempat. Namun kini, Wala Suji telah menjadi gerbang permanen bagi rumah-rumah keturunan bangsawan lokal. Bahkan pada beberapa keluarga yang pernah melakukan pesta perkawinan, membiarkan lasuginya itu tetap berdiri kukuh dalam waktu lama. Padahal semestinya, maksimal digunakan hingga 40 hari pasca perkawinan atau pesta adat.

Keengganan merubuhkan lasugi usai upacara perkawinan itu, selain merasa sayang menghancurkan bangunan mini itu karena harga pembuatannya yang mencapai ratusan ribu rupiah, lasugi dapat pula difungsikan sebagai tempat bernaung dari panasnya matahari atau derasnya hujan pada musim penghujan.

Sebagian orang yang memiliki lasugi, justru membuat bangku panjang dari bambu atau kayu di sisi kiri dan kanan bagian bawah lasugi, tempat para buibu ngobrol ria kalau sore-sore gitu ihihihi tempat bersantai. Bahkan sejumlah restoran atau hotel-hotel berbintang di Makassar, juga memasang lasugi di lokasi prasmanan atau tempat sajian hidangan dengan alasan menambahkan estetika dekorasi ruangan, sekaligus memperkenalkan salah satu karya seni budaya masyarakat Sulawesi Selatan. namun terlepas dari semua itu lasugi/ walasuji tetap menyimbolkan budaya lokal bugis makassar yang sifatnya berkembang dan tak akan terlupakan sampai kapanpun.


Source : Mappeasse Gule. Nilai Tradisional Daerah Bone. 1999, gitalara.blogspot.com, id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Lontara, asisjarahnitra.blogspot.com, gitalara.blogspot.com, anakbugisselangor.blogspot.com, wkmm-indonesia.blogspot.com, rappang.com.

12 comments:

  1. niat banget sampe bikin sendiri!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang niat mbak, kan buat prosesi nikahan saya. Ya niat bangetlah mbak haha itu dibikin lgsg sama keluarga besar sy . :)

      Delete
  2. waa...bahu membahu sekeluarga,.bikin 2 bulan xD...bagusnya diIndonesia itu pas nikahan adat pasti sejuta makna kayak lasugi ini yo

    ReplyDelete
  3. Semua warga di sana bisa bikin Lasugi ini kah mak? Keren banget yo gtong royong bikinin Lasugi untuk acara pernikahan

    ReplyDelete
  4. Waaa keren banget ya, sekarang lasugi-nya dimana? Pasti sayang banget setelah nikahan... Secara bikinnya 2 bulan & gotong royong sekeluarga...

    ReplyDelete
  5. mauku juga begitu deh
    tapi..tapi masih polos ka bicara nikahan :D

    Dulu waktu kecil suka sekali ka main dibawahnya lasugi main kucing-kucing dekatnya

    ReplyDelete
  6. Karena nikah di gedung, waktu nikahan gak dibuat wala suji ini. Sementara wala suji yang anggkut buah-buahan itu kan dipersiapkan mempelai pria jadi aman :p

    ReplyDelete
  7. wah sangat bermanfaat.. izin copas and share gpp.. hhe

    ReplyDelete
  8. sering sering post about budaya Gowa ya QIyah...nambah wawasan bgt nih :)

    ReplyDelete
  9. aku baru tahu lasugi. Anyamannya cakep banget, walaupun pengerjaannya on the spot ya. Itu bisa buat hiasankah?

    ReplyDelete
  10. Kalau diliat Kelihatan Mudah siapa saja bisa bikin...
    Tapiiii...Bambu yang di gunakan ngk sembarangan...harus yg mempunyai ruas yang sama begitupun ruasnya harus di perhatikan mana yg harus di atas dan harus di bawah ngk asal di ayaman...konon filosofinya pamali bagi keluarga antara keduanya

    ReplyDelete
  11. Wala soji atau lawa soji, dirumahku masih berdiri dengan gagahnya walopun pernikahanku sudah 3 tahun berlalu.
    Bener mbak, sayang kalo dilepas. Mungkin juga sebagai simbol bahwa pernikahannya harus dipertahankan sampai akhir hayat (sama dengan lawa soji, berdiri sampai bambunya lapuk dengan sendiri nya krn termakan usia)

    ReplyDelete