09 September 2015

Selamat Ulangtahun AyahZAM

Salam semua :)
Disuatu pagi, saya senyam senyum dihadapan ayahZAM dan bilang, "Sayang... ulangtahun ta ini hari, hehehe..."

AyahZAM yang masih sambil nutup mata, berusaha buat bangun lagi (kebiasaan abis subuh bobo lagi*) cuma bilang, "hoaaaaammhhhss... Trus... ?"

Datarrrrr....
yes !!! (ㄒoㄒ)

Ayahzam memang tipe yang menurutnya ulangtahun itu bukan sesuatu yang kudu diucapkan selamatnya. Biasa aja. Dari sjeak dia kecil, gak ada yang namanya ulangtahun dirayakan atau dikasih ucapan selamat, sekedar Happybirthday yang disingkat HBD aja, gak ada. >,<

Jadi, pagi itu berlangsung seperti biasanya saja. Karena hari Minggu, dan ada Mama (mertua saya) jadi ayahzam bertugas antar mama kerumah keluarga di Tanungpriok, saya dirumah aja sama dede' Raja. Pas mereka pulang, baru saya bilang ke Mama,

"Ma... ulantgtahunnya galebo-ta ini hari..."
"Iya kah? tanggal berapa je' ini hari?"
"Tanggal Enam ma.."
Mama langsung balik kebelakang nengok ayahzam yang baru masuk dari pintu, mama bilang apa?
"Tanggal berapa ko lahir kah?"

Jeeeeeeeeeeesssssss..... (✖﹏✖)

Mama gak tau tanggal lahir anak kesayangannya, cuma diingatannya, ayahzam lahir di pagi hari jam 10, hari ahad katanya. "Sudah 28 tahunmi umurnya Ma,..." celutukku, Mama tersenyum, "Tua mako je'" Ayahzam ekspresinya juga tetap datar saja. (musik musik itu matiin musik!!! bubar!!) haha!

Tapi, ulangtahun itu bukan tengan ucapannya, kuenya, atau perayaannya. tapi tentang sudah sejauh mana siklus kehidupan yang kita jalani. yang Ayahzam lalui, lelaki yang bersamanyalah saya akan menghabiskan seluruh hidup saya. Beribadah bersamanya, bermakmum padanya. Dari saya, kini dia sudah memiliki dua orang putra yang masih bayi (iya masih bayi* anak pertama-kedua cuma beda 10bulan #behihik) Tapi di postingan kali ini saya mau mencoba nulis-nulis tentangnya, dengan menyadur cerita dari Mama mertua yang sering sekali menceritakan masa kecil ayahzam.


Sebagai Seorang Anak

28 tahun yang lalu, di kota Parepare, lahir seorang anak lelaki bungsu dari pasangan yang sudah memiliki lima orang anak. Dengan berat 4,2kg dilahirkan secara normal, pada hari minggu, 06 September 1987. Diberi nama Mardiansyah Mannan, dan disapa dengan nama kecil "Dian". Kata Mama, "Kalau asyikki main, lari-lari, trus saya tangkap, kasih naik di ayunannya, langsungmi bobo, ndak menangisji" Waktu bayi dia dijuluki "galebo" karena porsi badannya yang endut banget, dan menang lomba 'bayi sehat' karena berat badannya ngalahin semua berat badan bayi yang lain di puskesmasnya waktu itu.

Menginjak masa sekolah, selalu dapat ranking, anaknya pendiam dan patuh, didikan yang menjadikannya seperti itu terbawa hingga dia menginjak masa remajanya, duduk dibangku SMA tidak ada catatan-catatan 'kenakalan ala remaja' sedikitpun. Kakak ipar sempat bilang ke saya waktu saya hamil pertama berkunjung ke Parepare, "Makan sayur ini banyak-banyak, supaya cerdas kayak ayahnya nanti anakmu." hehehe [waktu itu langsung makan banyak sayurnya-hahaha*] Ayahzam anak yang cerdas bagi Mama dan Bapak, Adik yang rajin bagi ke-5 kakaknya.

Tamat SMA, angkatan 2005, senior setahun diatas saya kan pada coret-coret tuh, ayahzam sama and the gank  nya nggak ada istilah gituan, no coret2 no konvoi. Ayahzam sama temannya cuma bikin acara syukuran dari satu rumah temannya ke rumah teman yang lain, makan-makan gratisan. hihihi, Soal daftar sana sini juga ayahzam melaluinya, Bapak pengen ada anaknya jadi seorang Dokter, dan Bapak mempercayai ayahzam untuk hal itu. 

Ayahzam pun mencoba mendaftar di Universitas Hasanuddin, ambil IPA, pilihan pertamanya tentu Fakultas Kedokteran. Katanya sih ayahzam agak ragu dengan kemampuannya untuk ikut tes Fakultas Kedokteran, tapi berbekal doa Bapak, ayahzam maju. Tiba pengumuman, tidak lulus. 

Lewat masa SPMB, ayahzam mendaftar Akademi Kepolisian, hasilnya, Lulus! Ayahzam lulus test tertulis, wawancara, dan bahkan test pelatihan fisik, sampai kesehatan. Sedikit lagi akan masuk siswa Seba. Tapi Allah tidak begitu menginginkan dia jadi Polisi, masuk kepolisian butuh uang masuk yang-pada-zaman-itu-gak sedikit. Bapak yang sudah pensiun gak sanggup memenuhi dana masuk kepolisian itu. Dibantu saudaranya pun tidak sampai cukup. Ayahzam juga ogah-ogahan. Dia mengungkap keinginannya untuk kuliah di fakultas Elektro saja, "Mau jadi tukang listrik kamu??? daftar yang lain lah...!!!" Perintah Bapak. Ini kenapa Bapak begitu sewot sama soal pendidikan anaknya karena Bapak pensiunan Guru :)

Sampai suatu saat, ayahzam daftar STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Saya juga daftar waktu itu, tiga kali, saya malah ikut bimbingan khususnya, tapi gak lulus euyyyy ToT haha! sedangkan ayahzam, satukali daftar, langsung lulus saat itu juga. Lulus di Direktorat Jendral Bea dan Cukai. Ayahzam gak tau itu kerjaan apa dan bagaimana. Cuma taunya itu PNS, yasudahlah! HAHA!!! 

Berawal dari kelulusannya di STAN-BeaCukai itulah, siklus kehidupannya, berjalan, dia pun jadi anak yang harus merantau jauh dari keluarganya. Karena kan ya memenag kalau jadi PNS abdinya tuh bersedia ditempatkan diseluruh wilayah di Indonesia. Pertama ditugaskan di Luwuk, kemudian Surabaya, lalu Jakarta. Dan takdir mempertemukan kami lewat pekerjaannya itu. Baca disini : awal saya kenal sama ayahzamAndaikan waktu itu ayahzam jadi dokter, atau jadi Polisi, istrinya bukan saya, anaknya bukan abangzam dan dede maraja :)

Sebagai Seorang Suami

"Iye saya bisa menyanggupi semua prasyarat dan syarat untuk nikah sama ade', tapi saya juga berharap semoga ade' bersedia hidup sederhana sama saya, menerima apa adanya saya..."

itu isi BBM ayahzam waktu pertamakali berniat mengajak keluarganya melamar saya, menjadikan saya istrinya. Taulah orang Makassar mau nikah, yang agak bikin tersendat itu soal musyawarah untuk mencapai mufakat tentang "uang panaik" dan itu tadi, Ayahzam meyanggupi. 

Hidup Sederhana. Itu yang saya garis bawahi. Jawaban saya waktu itu langsung "Iya kak..." aja. bukan karena kebelet nikah dah udahlah nikah aja. bukan! tapi karena saya berpikir, jika seorang laki-laki sudah berkata akan menyanggupi, apalagi yang meragukan? kan ya gitu kan? :)

Tentang hidup sederhana. Setelah menikah, kita berdua akan menghabiskan sisa usia untuk terus belajar untuk saling mengenal. Empat bulan perkenalan lewat jalan taaruf tidak cukup untuk kita berdua mengeluarkan semua sifat dan sikap. Namanya manusia, perubahan dalam diri itu lumrah. Kesederhanaan hidup ayahzam telah memukau saya. Membuat saya bersyukur berjodoh dengannya. Membuat saya berpikir dialah yang paling pantas untuk saya. :)

Dunia kami berbeda, saya yang seringnya berkecimpung dengan orang banyak, kegiatan sebagai event organizer, public relation, fotografer, dan beberapa komunitas berbanding terbalik sekali dengan ayahzam yang kesehariannya sebagai pegawai yang beriman. Dia pendengar yang baik, jarang bicara banyak, tapi sekalinya bicara, selalu bikin luluh hati saya. Dia gak romantis seperti lelaki di kebanyakan sinetron Indonesia, tapi dia romantis dengan caranya sendiri. kalau lagi bercandaan ala anak ABG yang baru jadian (ya kan kita gak pacalanssss) diujung tawanya dia bilang, "Mesra teruski nah sampai selamanya, heheh!"

Seeeeeeeerrrrrrr... Eeeaa....\(-ㅂ-)/ ♥ ♥ ♥ (lope lope diudara!)

Soal penampilannya kalau bepergian, dia senang dan nyamannya dengan baju kaos dan celana panjang (but no jeans, cotton etc. only) trus sendal. Kadang juga pakai kemeja lengan pendek, cuma jarang. Soal merk/brand, ayahzam ora urus! Hahaha gak peduli mau merk apa dan gimana yg jelas nyaman dan murah. Makanan juga, dia lebih senang makan ala rumahan dibanding western food yang di cafe-cafe. Lebih suka ala tradisional. 

Kemudian, pernikahan kami harus memasuki nasib Long Distance Marriage, merajut cinta jarak jauh, mendekap erat dengan doa yang saat itu selalu kami langitkan. Hampir setahun kami LDM-an, suka dukanya terasa sekali. Bandara jadi venue love story. Saat itu ayahzam mengaku, dia bete kalau pulang kantor gak ada siapa-siapa dirumah. Hatinya selalu waswas akan saya. 

"jangan keluar sampai malam ya!"
"hari ini, dirumah aja dulu ya..."
"kalau keluar ajak orang temaniki ya, jangan sendirian"
"baek-baekjaki disana?"

Begitulah beberapa BBM yang selalu dikirim ayahzam untuk saya, selagi kami LDM-an. Saya harus selalu ingat untuk minta izin padanya, mau kemana? ada kegiatan apa? Sama siapa? Selesai jam berapa? Siapa yang bawa mobil? Semua harus saya sampaikan ke ayahzam. Kemudian malam sebelum tidur, telponan menceritakan aktifitas yg sy lakukan seharian. Kadang juga kami marahan loh. Gak saling hubungi satu sama lain selama dua hari :-D kalau bukan saya yang pada akhirnya nelpon duluan, ya ayahzam yang BBM.

Dua tahun bersamanya, dia selalu memenuhi semua keinginan dan kebutuhan saya. Saya banyak maunya. Mau ini itu, ayahzam menyanggupi! Beliin ini itu selama ini selalu dituruti mauku. (stop ngetik dulu, meluk suami dulu.... Kiss..kisss.. (´ε` )♡ mmuaachh) HAHAHA.

Tidak ada yang dimana saya rasa permintaan saya tertolak olehnya, suaranya kalau bilang "iye..." duuuuhaaaaaaii rasa pengen minta diterbangin ke awan-awan, lebay tapi serius! Waktu hamil, mau makan apa, mau kemana, cussssss... Langsung. Malam-malam minta beliin bakso, padahal dia sudah PW ditempatnya, dia segera bangkit beliin bakso. Dia tau lah memperlakukan saya sebagai seorang putri, karena kan ya dia dibesarkan oleh seorang ratu (ngutip kalimat deramahhh* :D hihi)

Tapi tugas utama suami bukan hanya itu,

"Sekarang, qt tanggung jawabku, sama-samaki berusaha untuk meraih Jannah Allah, karena saya mau terus sama qt sampai disurga nanti kita dipersatukan. Saya memang tidak akan selalu benar, tapi saya mau qt juga taat sama saya..." 

Kemudian ayahzam memasang emote senyum setelah mengetikkan kalimat itu ke BBM. Kenapa BBMan? Gak telponan? Ya itu dia kesamaan saya dengan ayahzam, bisanya mengekspresikan apa yang ingin diungkapkan lewat tulisan. Kalau ngomong langsung jadi beda tastenya. Hehe :-)
Ayahzam imam yang bijaksana, tidak pernah memaksakan untuk saya HARUS LANGSUNG shalehah, tidak! Namun dia senantiasa selalu mengingatkan, mengajak jamaah, atau mengajak ngaji. Juga mengingatkan kalau saya ada salah atau ada hal yang seharusnya tidak perlu saya lakukan karena mudharatnya lebih banyak dibanding manfaatnya. Paling penting ayahzam selalu berpesan, "Jangan sombong..." karena kesombongan itu mendatangkan malapetaka. Ayahzam juga menanggapi tentang antusiasnya saya dengan sosmed, upload ini itu, dia bilang "Sayang... Tidak semua orang yang liat itu suka, ada yang benci juga, disaring mana yang konsumsi publik dan mana yang bukan."

Gimana soal marah dan cemburunya? Kalau nggak ada itu berarti gak cinta dan sayang dongssss.. (/ω\) hoohohoho. Pernah kok :) dan kami berhasil mengatasinya dalam tempo yang singkat-sesingkatnya hehey

Kami berdua adalah seorang pemimpi, dan perencana. Biasanya sebelum tidur, kami berdua ngobrol soal usaha sampingan apa yang akan kita buka nanti seandainya bisa diberi rejeki lebih dan kesempatan, menghitung pengeluaran dan pemasukan, dimana nanti anak-anak akan disekolahkan, dan lain sebagainya. Ayahzam kepala rumahtangga yang SIAGA :)

Sebagai Seorang Ayah


Waktu anak pertama kami lahir, abangzam. Dia tidak hadir mendampingi, tidak menyaksikan langsung kelahiran abangzam, pun bukan dia yang meng-adzan-kan. baca alasannya disini : cerita lahiran babyzam :) lantas apa dengan begitu, ayahzam bukan ayah yang baik? Otomatis tidak lah kan. Dia berusia 27 tahun ketika menjadi seorang ayah. Belum cukup setahun usia pernikahan kami, sudha diberi amanah. Mungkin saja, ayahzam pernah belum siap menghadapi hal itu, tapi tentu dia tau betul, cepat atau lambat, seorang suami juga harus siap menjadi seorang ayah. 

Sejak dalam kandungan, ayahzam sudah mulai memberikan yang terbaik dari yang terbaik untuk anaknya. Memeriksakan kesehatan di dokter kandungan yang bagus, membelikan obat dan vitamin yang terbaik untuk nutrisi dan gizi, juga masalah kualitas makanan saya, semua yang terbaik pokoknya diupayakan untuk dia berikan. 

Ayahzam memberikan perhatian penuh pada anaknya sejak dalam kandungan. kami juga saling berdiskusi mengenai perkembangan yang terjadi pekan demi pekan, bersama-sama mencari informasi mengenai kehamilan dan pendidikan anak dari media cetak maupun dengan bertukar pengalaman, mendiskusikan rencana-rencana ke depan bagi bayi kami, dan menyempatkan diri secara rutin mengelus perut saya, menyapa anaknya sambil mengucapkan kalimat kasih sayang, juga memperdengarkan ngaji-nya. 

Sampai saat proses melahirkan di Rumah sakit, ayahzam berpesan ke adik saya, "Ambil yang paling bagus ya kamarnya," dan pada Ummi , "Kasih yang terbaik...", juga pada teman saya yang kebetulan saat itu menangani partus saya, "Qiah sudah di ruang bersalin, semangatin ya, ceritakan yang baik-baik.". doanya melangit detik demi detik saat itu :) 
Saat melahirkan anak kedua, barulah ayahzam hadir disisiku, menyaksikan langsung partusku, ceritanya baca disini : Cerita Lahiran Dede Aco

Urusan gendong menggendong ayahzam sudah lincah loh, maklum, dia sudah punya 9 keponakan hheehe. Jadi tidak kaku saat menggendong abang atau dede, tapi tetap hati-hati. Saya paling senang melihat ekspresi ayahzam saat dia memandangi muka abang atau dede, lalu sumringah sendirian, kemudian tertawa bahagia. hehe ^,^

Anak kami memang masih terbilang bayi, dan kami juga orangtua yang masih baru, Bagi ayahzam, menjadi seorang Ayah mungkin terkadang dirasakan bukan menjadi satu hal yang  sederhana, saat dia biasanya tidur pulas tanpa gangguan, sekarang harus rela mendengar jeritan tangis anak kalau tengah malam, padahal besok pagi harus masuk kantor. Ayahzam sabar mengahadapi itu, tak pernah keluhan ditampakkannya didepanku. Waktunya untuk anak-anak memang sangat jarang, tapi langkahnya kin, semua tujuan hidupnya diarahlan ke anak kami. Untuk saat ini kami meminta bantuan pengalaman merawat dan mendidik anak dari para orangtua kami, sembari kami juga meng-upgrade. Maklum biasanya beda cara rawat anak jaman dulu dan jaman sekarang kan. heheu.

Untuk soal mainan, ayahzam lebih suka anaknya bermain bersama alam, keluar rumah, bertualang ala-ala ninja hatori, mendaki gunung lewati lembah, T__T ekstrem yaaa. Mungkin karena anak kami cowok semua jadi harus mendidiknya mandiri sedini mungkin. Gak tegaaaaaa sayanya. hiks.. tapi masih bisa ah bujuk-bujuk ayahzam sebelum semua itu terjadi di tahun demi tahun perkembangan anak kami nantinya. Ditunggu saja lah ya apa dan bagaimana jadinya nanti. Biarkan waktu memberikan kami kesempatan itu, semoga kami panjang umur. aamiin

Ayahzam memang bukan, 7 para ayah keren menurut Alqur'an. Tapi saya yakin, dia akan mengambil teladan dari para Rasul untuk mendidik anak-anaknya, dan mengaplikasikan dengan caranya sendiri. Dia akan selalu dan selalu mencari jalan untuk menjadi ayah yang baik, yang sampai nanti anak-anaknya mengakuinya sebagai Ayah terbaik. Sampai bila anak-anak kami dihadapkan pertanyaan : "Seandainya kalian disuruh memilih untuk lahir dari orangtua yang mana... kalian mau dilahirkan oleh siapa?" dan jawaban mereka, tetap Kami :) 

Selamat ulangtahun suamiku, ayahzam

Tulisan ini kupersembahkan untukmu
sebagai kado,-atau-sebagai-apa-yang-ayahzam-anggap hehe
maafkan saya ya sayang, bukan barang yang saya beri, belum sekalipun saya memberikan hadiah-barang- untuk ayahzam. :(((
Yang paling kuharap untuk diberikan padamu adalah kesehatan yang walafiat selalu.
banyak doa untukmu sayang... 
met dinas malam ya, kutunggu besok dirumah ^.^


trus kita shopping yaa.. ya ... yaa.. yaa..
(apaseeeeeeeeeeeeeh! hihi) 
ayahzam udah BBM "sayang... boboki..."
goodnight all :)






13 comments:

  1. selamat ulang tahun untuk suaminya, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasihhhh moms keke n naima
      (●´з`)♡

      Delete
  2. Qiahhhhh... Haddehhh nda kutaumi mau blng apa speechless...

    Semoga sakinah mawaddah warrahmah terus yah...semoga sy pun segera bs merasai itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak idaa : aamiin bi alfi aamiin kak sayg. Iyee kak sy doakan kii selaluu semoga disegerakan .. Muuuaaaachh kak
      (´ε` )♡

      Delete
  3. Sama kyk suamiku ka qiah hihii, datar2 ja klo ultah..
    Btw so sweet bgt critanyaah

    ReplyDelete
  4. selamat ulan tahun ya untuk suaminya

    ReplyDelete
  5. Selamat ulang tahunnnn suaminya \m/
    iya...kenapa ya suami kadang ga merasa spesial ultahnya sendiro --"

    ReplyDelete
  6. Barakallah ya Qiah ... hope you'll live happily ever after. Smoga meraih jannah bersama Ayahzam.

    Kalo ada masalah, langsung buka postingan ini, pasti Qiah bakal luluh lagi. Kita yang baca saja luluh :')

    ReplyDelete
  7. HBD utk papa ZAM... eh agak ngernyit dahi saat baca kalimat yg dari bahasa daerahnya...sambil bertanya2 maksudnya apa ya...hehehe...
    btw barokallah utk suami dan sekeluarga tentunya

    ReplyDelete