05 May 2015

Muslimah Saat Jauh Dari Suami

Assalamualaikum wr.wb
Beberapa dari kita mungkin sudah tau betul tentang kisah Ummu Mutiah, perempuan pertama yang menjadi penghuni Surga karena ketaatan, kepatuhan, serta pengabdiannya kepada suaminya. Setiap seorang istri pastilah ingin mengamalkan sikap Ummu Mutiah. begitupun dengan saya. Apalagi saya termasuk seorang istri yang jauh dari suami.

Sudah hampir dua tahun saya dan suami menjalani Long Distance Marriage, pernikahan kami memang masih seumur jagung, orang bilang masih masa mesra-mesranya. Ah tapi akan saya usahakan biar selama hayat usia pernikahan kami akan mesra terus seperti pesan suami waktu awal nikah hehehe :D 

Sebagai Muslimah yang sudah jadi seorang istri tapi jauh dari suaminya, tentu banyak yang harus dijaga. Jaga maruah dan kehormatan diri, juga menjaga nama baik suami.

Rasulullah S.A.W bersabda : "Seseorang tidak dianggap menyempurnakan kewajibannya pada Allah, sehingga ia menyempurnakan seluruh kewajiban-nya kepada suami-nya." (H.R.Tabhrani)

Saya harus menyesuaikan diri terhadap situasi tanpa kehadiran suami. Karena kami memiliki peran masing-masing. Yang tidak berbeda adalah perjuangan mengatasi rasa rindu pada suami. Saya juga harus menjaga stabilitas emosi, terutama agar anak tetap merasa aman dan nyaman meski saat ini hanya ada Ibunya. Sampai saat ini babyZAM-ku mungkin sudah mengerti kalau ayahnya hanya datang sebulan sekali. 

Saya akan mengusahakan tetap merasa "bersama." meski berjauhan. Dalam berbagai kesempatan berkomunikasi, mengungkapan perasaan-perasaan saya seperti rindu, kehilangan atau rasa senang saat sedang berkomunikasi. paling penting itu adalah meski jauh, suami harus tau kegiatan-kegiatan saya. Misalkan saya hari ini keluar rumah, malam sebelumnya sudah harus izin dengan suami. Kalau diizinkan baru pergi, ini penting loh. Karena ketika seorang muslimah keluar rumah ia harus didampingi suami atau mahramnya. Jadi saya kalau bepergian atas izin suami, harus ditemani pula dengan keluarga. Mau kemana?, urusan apa?, bahkan sebenarnya untuk urusan pakaian juga harus dengan izin suami, keluar rumah dengan memakai pakaian syari'i. Pulang tidak boleh malam. Jangankan bepergian, Puasa sunnah saja, harus se-izin suami kan? Seperti Ummu Mutiah tadi, bahkan menerima tamu yang jelas-jelas Putri Rasulullah yang Agung, harus meminta izin suaminya. 

Meskipun begitu, saya merasa LDM memiliki manfaat positif untuk pernikahan saya ini. Kerinduan yang terpendam karena harus terpisah jarak membuat saya semakin cinta pada suami. Kerinduan bisa dilepaskan ketika bertemu sehingga membuat hubungan kami lebih terjaga. Membuat Rindu jadi berkualitas dengan merapal doa-doa yang menggepul di langit.
Ada suprise lucu yang saya mau ceritakan kemarin saat suami pulang. Yup kemarin, Kamis jelang long weekend menyambut bulan Mei, suami datang.
Awalnya saya memang sempat merengek meminta suami pulang karena ada libur empat hari (maklum lagi hamil tua, manja jadi alasan*hhihi) suami mengiyakan sih tapi suami bilang "InsyaAllah kalau ada pengganti di kantor ya..." sudah jelang tanggal satu Mei, suami belum dapat pengganti di kantor, dan terancam tidak bisa pulang. Jadi pupuslah sudah harapan saya untuk ketemu suami di long weekend awal Mei.

Tapi, dini hari jam 02.00 Wita ada suara ketuk-ketuk jendela kamar dan telpon yang berdering. Saya baru sadar, ternyata suami sudah menelpon 17 kali dan ketok-ketok jendela berkali-kali, saya tetap molor HAHAHA!! kasian suami kelamaan menunggu di teras rumah. Saat saya angkat telpon, suami langsung bilang "Buka pintu ta dulu, banyak nyamuk di teras..." HAHA daengku.. siapa suruh datang tidak bilang-bilang. Rencana kasih suprise malah digigit nyamuk. Keesokan paginya, babyZAM tertawa ceria, kaget lihat ayahnya datang hehe. Nah itulah juga alasan kenapa postingan saya beberapa hari ini label kuliner terus hehe karena suami datang nemani kulineran :D

Namun, empat hari terasa sangat sebentar. Empat hari atau bahkan seminggu atau sebulan, mau berapa lama kalau tau akhirnya tau harus berpisah lagi karena alasan pekerjaan, pasti waktu terasa sebentar. Dan kembali lagi bersedih hati ini (tidak bisa dipungkiri dong ya kalau sedih berpisah sama suami) tapi saya juga harus tetap fighting, kuat dan tegar menjalani keadaan ini. entah kapan Bandara sudah bukan lagi jadi venue story board kisah cinta kami. Yang penting saat ini jalani dulu, istiqamah dan berharap suatu saat nanti kami bisa berkumpul di Baiti jannati kami.
aamin ^^
Wassalam

No comments:

Post a Comment