17 October 2013

Upacara Adat Korongtigi/Mappacci

Sore hari, di hari yang sama saat Mappassili, sehari sebelum hari H pihak keluargaku di utus untuk "Muntuli Korongtigi" yang artinya mereka diminta mendatangi rumah imam dusun, imam desa, dan kepala Desa untuk diserahkan daun pacar atau leko' korongtigi sebagai bentuk permintaan izin bahwa malam nanti akan ada acara korongtigi dirumah keluarga kami. keluargaku kesana memakai baju adat dan membawa bosara yang diisi dengan aneka macam kue tradisional sebagai balasan pemberian Kepala desa setempat. kedatangan tersebut juga bisa dimaksudkan sebagai undangan agar kepala desa dan imam dusun hadir kerumah untuk ikut mendoakan agar mempelai pengantin wanita memperoleh berkah. 
Korongtigi atau Mappacci ini adalah Adat yang harus dilakukan dan merupakan rangkaian perayaan pernikahan :) dengan penggunaan simbol-simbol yang sarat makna akan menjaga keutuhan keluarga dan memelihara kasih sayang dalam rumah tangga. “Mappacci” berasal dari kata “Pacci”, itu tuh daun yang dihaluskan untuk penghias kuku, mirip bunyinya dengan kata “paccing” artinya bersih atau suci. Melambangkan kesucian hati saya sebagai calon pengantin untuk menghadapi hari esok, khususnya memasuki bahtera rumah tangga meninggalkan masa gadis saya sekaligus merupakan malam yang berisi doa.
sebenarnya, menurut kabar yang berkembang dikalangan generasi tua, prosesii  korontigi ini sudah mereka warisi secara turun-menurun dari nenek moyang keluarga yang berdarah Gowa Sulawesi Selatan, bahkan sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Bugis-Makassar. Oleh karena itu, kegiatan ini sudah menjadi budaya yang mendarah daging dan sepertinya sulit dipisahkan dari ritual perkawinan Bugis-Makassar. malam koorngitigi saya memilih pakaian adat yang berwarna hijau yang kata ummi memang sudah jadi warna kewajiban kalau malam korongtigi calon pengantin memakai warna hijau.tapi ada sedikit debat kemarin saya sama ummi, saya kurang suka dengan yang namanya warna hijau :D hehehehh tapi alhamdulillah ummi dan tante dapat anrong bunting (Tetua adat pengantin) dan salonnya punya baju adat pengantin makassar yang berwarna hijau tapi saya suka hehehhehe... jadilah malam itu....
tapi sebelum upacara adat korongtigi dimulai terlebih dahulu ada acara khatam Quran. yang dimana saya dihadapan para pemuka adat di dusun tempat tinggal saya membaca ayat suci AlQuran.tepat pukul 20.00 wita ganrang pa'balle mulai di tabuh kembali, pertanda seluruh rangkaian upacara adat malam itu, dimulai
setelah khatam Quran selesai, barulah acara inti korongtigi dimulai saya sudah dibawa keluar kamar dan naik di pelaminan. Adapun peralatan dan perlengkapan ‘Mappacci’  terdiri dari : Bantal, Sarung, daun pisang dan daun nangka. ada juga beras yang digoreng kering hingga mekar melambangkan harapan kiranya calon pengantin ini akan mekar berkembang dengan baik, bersih dan jujur. .
Sementara, Bantal (Pallungang) merupakan simbol kemakmuran. Pengertian khususnya sebagai pengalas kepala yang artinya penghormatan atau martabat, dalam bahasa Makassar disebut “Mappakalakbiri”. Mengenai Sarung (Lipa) yang disusun 7 lembar, maksudnya ialah sebagai penutup tubuh (harga diri) juga karena sarung dibuat dari benang yang ditenun helai demi helai melambangkan ketekunan dan keterampilan. Menurut cerita dahulu kala jika mencari calon isteri, si pria tidak perlu melihat secara langsung si gadis tapi cukup dengan melihat hasil tenunannya, rapi atau tidak ?. Bila tenunannya rapi dan bagus maka pilihan pria akan jatuh pada gadis tersebut. Tujuh lembar melambangkan hasil pekerjaan yang baik. Dalam bahasa Makassar “Tujui” yang mirip dengan kata “Mattujui” artinya berguna. 
Untuk Daun pisang (Leko’ Unti), dilambangkan sebagai kehidupan yang sambung menyambung. Daun yang tua belum kering betul, daun muda telah muncul untuk menggantikan dan melanjutkan hidupnya. Dalam bahasa bugis disebut “Maccolli Maddaung” dan Daun nangka, (bugis = “Dau’ Panasa”), mirip dengan bunyi “Minasa” yang berarti cita – cita yang luhur. kemudian lilin dari lebah, ini melambangkan suluh (penerang) dan kehidupan lebah artinya tata kehidupan bermasyarakat yang kita lihat dalam kehidupan lebih terlihat rukun, baik, tidak saling mengganggu satu sama lain. Artinya hendaknya menjadi suri tauladan dalam kehidupan bermasyarakat
susunan acara korongtigi ini simple saja, seluruh keluarga dan tamu yang hadir, satu persatu dipanggil kepelaminan untuk mem-paccing telapak tanganku, kemudian mendoakanku. Setelah semua tamu yang ditetapkan telah melakukan acara ‘Mappacci’ maka kemudian keluarga intiku (papa ummi dan adik-adikku) bersama – sama mendoakan  agar pernikahan besok direstui oleh Yang Maha Kuasa agar kelak saya dan calon suami dapat menjadi suri tauladan karena martabat dan harga diri yang tinggi.
ada juga teman-teman hadir ikut mendoakan, bahagianya diriku malam itu :) Ahamdulillah Subhanallah. dan tidak tertinggal juga deg-deg-annya hatiku menanti hari esok, menantikan kedatangan calon suamiku untuk akad nikah dan mengucap ijab kabul dihadapan papa. (Tapi nunggu nya sambil tidur yah... heheheheh) :p




documentation by dblurphoto.com - @choexMan
edited by me

16 October 2013

Upacara Adat Mappassili | Siraman

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
alhamdulillah sudah bisa memposting upacara adat pernikahanku, yang pertama itu ialah upacara adat Mappassili (siraman) acara mappassili ini semacam ritual pembersihan diri dan jiwa saya sebagai calon pengantin, yang dilaksanakan sehari sebelum hari H. yakni 17 Oktober pagi jam 10.00 wita yang dimana oleh anrong bunting (tetua adat pengantin) dianggap waktu yang baik, waktu duha' :) 

Pagi itu adalah waktu yang membahagiakan untuk saya dan keluarga, bagaimana tidak upacara adat ini adalah yang pertama dari serangkaian upacara adat yang lainnya dalam pernikahan. saya sebagai anak sulung dari keluarga besar saya, dirumah pertamakalinya mengadakan upacara adat pernikahan jadi riuh suasana kebahagiaan itu sangat kental terasa. tepat pukul 09.00 wita saya sudah bersiap dengan pakaian saya yang dipilihkan tante dan ummi kemudian duduk dikamar/diranjang pengantin sambil menunggu waktu baik itu datang dan kita semua siap memulai acara Mappassili. pagi itu baju bordir warna biru tua jadi pilihan ummi dan saya, karena warna biru melambangkan warna kecerahan di atas langit seperti hari ini yang cerah dan suasana yang membahagiakan. saya juga pakai bunga melati yang sudah dirangkai, awalnya mau pakai bunga melati yang plastik tapi karena Alhamdulillah ada sepupuku dai Banjarmasin datang bawain rangkaian bunga melati yang asli dan baunya masih segar karena dibungkus dengan es batu. semerbak :)

12 October 2013

Hati... Tenang yah!

Assalamualaikum, wr.wb
Delapan belas Oktobe mendatang adalah satu hari paling bersejarah dalam hidup saya, 
karena di tanggal tersebut saya akan mengiyakan ucapan janji sehidup semati, janji yang tentunya dari pendamping hidup yang kupilih dari hati, yang kupilih karena ridho orangtuaku, yang kuharap juga diridhoi Allahku.
Persiapan menjelang janji suci itu ternyata tak semudah membalik telapak tangan, tak setenang ketika hanya mendampingi keluarga/sodara yang lain yang pernah menikah kemarin-kemarin. Tentu saja karena hari itu saya sendiri yang bakal jadi aktor utamanya. Saya dan sang pangeranku kelak. Dagdigdugnya memang tak terasa sejak jauh-jauh hari,, tapi semakin mendekati hari H, rasa khawatir dan cemas terus menggoda-goda membuat hati ini tak tenang. Bukan hanya tentang bagaimana nantinya antara aku dan dia setelah menikah,, tapi justru lebih terasa tentang bagaimana kesiapan kami mempersiapkan hari itu. Apalagi seperti yang kita semua ketahui pernikahan jaman sekarang tidak hanya sekedar cukup syarat dan rukun nikah yang diakui syah secara agama, tapi ada juga budaya dan kebiasaan masyarakat yang seolah kurang jika tak dijalankan.

Padahal secara agama Islam sebetulnya pernikahan sudah SAH cukup dengan memenuhi syarat dan rukun-nya, tentunya tanpa mengesampingkan tentang aturan Islam lainnya mengenai pernikahan. Syarat nikah yaitu adanya Ijab berupa penyerahan dari wali calon istri dan Qabul yaitu penerimaan dari calon suami yang ditandai dengan penyerahan mahar (mas kawin) untuk sang calon Istri. Juga Rukun nikah yang terdiri dari adanya kedua mempelai pria dan wanita, wali, dua orang saksi (pria dewasa), dan Adanya Ijab Qabul. Selesai! Tapi kenyataannya Rasulullah sendiri sebagai panutan muslim sedunia mencontohkan mengenai Walimah, yaitu pesta setelah akad nikah sebagai pemberitahuan kepada khalayak ramai akan perubahan status kedua pengantin dari lajang menjadi menikah, sehingga menjaga keduanya dari fitnah, meskipun tak harus mewah.
Mau tidak mau sebagai orang yang hidup dengan budaya dan kebiasaan sekarang kami sekeluarga pun yang akan menikah harus mempersiapkan segala persiapan supaya tidak mengecewakan para tamu, dari mulai upacara adat, adanya pesta pernikahan, hiburan yg disukai, juga persiapan tetek bengek lainnya yang ternyata cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Tentunya ini semua harus dijalani dengan ikhlas dengan harapan karena ini adalah pernikahan yang akan saya jalani hanya sekali seumur hidup,, pertama dan terakhir,, semoga Allah meridhoi :).
Tak terkecuali persiapan untuk mengundang para tamu hadir ke walimah (resepsi) pernikahan, kalau jaman dulu mungkin cukup menyampaikan dari mulut ke mulut tentunya dengan perkembangan zaman sekarang ini rasanya tidak lengkap jika tak di sampaikan dengan kartu undangan. Perhitungan dengan cermat dan matang pun harusnya jauh-jauh hari sudah dilakukan untuk menghindari kekurangan stok undangan dan ketersediaan jamuan untuk para tamu nanti tentunya. Tapi apa daya, namanya manusia, seberusaha sempurna apapun merencanakan tetap Allah jua yang menentukan. 

Dan bukan hanya pada persiapan undangan pernikahan saya saja, pasti banyak juga persiapan undangan pernikahan lainnya yang mengalami teman dan kerabat dekat terlupa, tak masuk dalam daftar tamu yang diundang, padahal mungkin orang tersebut punya kekerabatan yang dekat dengan kita. Akhirnya berbagai cara harus disiasati, mungkin dengan mencabut nama calon undangan yang kurang dikenal misalnya, atau bahkan sampai menambah lagi cetakan undangan. Sesuatu yang sebetulnya bukan keharusan untuk mengundang dengan kartu undangan yg dicetak rapi dan bagus, tapi jaman sekarang akan seolah menjadi kurang sopan jika hanya disampaikan lewat mulut. mengurus undangan ini yang paling menyita tenagaku loh.... tapi alhamdulillah berkat bantuan teman2 yang lain undangan pun beres di bagikan. 


juga paling tak terlupa dan paling ku syukuri adalah semangat yang terus dilencangkan oleh calon suamiku :) dia terus menenangkan hatiku. kami kini banyak berdoa terus, semoga kekhawatiran dihati kami kian mereda dan kedepannya insyaAllah dilancarkan terus. mohon doanya ya teman-teman.
wassalamualaikum wr.wb