29 January 2013

Untuk Siapa Semuanya

Ya Allah... simpan saja semua kebahagiaan yang hendak kau berikan kepadaku... tunda kebahagiaanku, berikan saja semua kepada mereka... 
kedua orangtuaku, sebab di senyuman mereka lah letak kebahagiaan bagiku.


dipostingan kali ini saya tiba-tiba ingin bercerita tentang cinta diantara papa dan ummi :) dirumah kalau semua sedang berkumpul biasanya papa dan ummi sering membagikan kisah2 mereka masa muda dulu kepada kami semua, anak2nya...

awal mereka bertemu itu papa baru saja tamat SMA, beliau diajak oleh sang ibunya (nenek) untuk menghadiri sebuah pernikaha keluarganya di daerah gowa. berangkatlah mereka berdua dari Makassar (wilayah sentral) sampai digowa, papa dan ibunya tiba lebih awal sehari dari acara pernikahan karena keluarga papa jg ingin menjemput tamu. setelah beristirahat, papa diajak berjalan2 dan bersilaturrahmi kerumah para bija (para keluarga lain) yang tinggal didaerah itu. maklum bila di kabupaten semua sanak keluarga rumahnya berdempetan/saling berdekatan.

papa bertamu kerumah sepupunya, zaenab. yang sudah memiliki 6 orang anak... 3 lelaki 3 perempuan. yang tertua sudah menikah, ada jg yang sebaya dengan papa dan 3 anak perempuannya lagi masih SD dan SMP dirumah sepupunya, papa jg berjalan sebentar mengitari rumah rate (rumah atas/bentuk rumah adat sulsel) dari atas teras rumah pandangannya tertumbuk pada seorang gadis belia yang sedang asyik bercengkrama dengan pakaian2 basah yang dicucinya bersama teman-temannya didekat sumur. gadis belia itu memesona papa dengan tawa dan wajah cantiknya. selang beberapa menit kemudian, gadis itu selesai dengan cuciannya dia naik keatas rumah, Papa kaget .. "ooh ternyata dia anak tuan rumah.." batinnya. gadis itu berjalan melewati papa, disuguhkannya sebuah senyuman tabe' (permisi) kepada papa. papa pun membalas. kekagumannya berhasil ditutupinya. papa hanya diam setelahnya. hari sudah agak sore waktu itu papa yang asyik ngobrol sama keponakannya yang sebaya dengan dia, tiba-tiba dipanggil kedalam oleh sepupunya, untuk minum teh bersama... papa menengok rupanya ada si gadis belia itu ikut duduk. mereka pun bercerita, disitulah papa pertama kali mengenal namanya... Nursiah....biasa disapa Ciah... (ummiku) dan perbincangan pertama mereka adalah tentang arti sebuah nama.

malam pada saat acara pernikahan keluarga.. sipengantin duduk didamingi "passappi" (pendamping pengantin) dan diantara yg mendampingi ada Ciah(ummi) juga... papa makin terpesona dengan dandan pendamping pengantin itu ... orang sekitar jg memperhatikan Ciah yang duduk malu-malu sebab beberapa orang menggodanya dengan kata gombal "cantiknya ... sipengantin kecil... udah bisa juga jd pengantin nih..." begitu... dan entah kenapa kalimat itu membuat wajah papa merona. rupanya wajah papa yang merona terlihat oleh ibunya. ibunya papa mengkode memandang kearah papa yang melirik. kemudian papa berbisik pada ibunya, "ammale'.... iyamo anjo deh..." ("maa... dia saja yah...") katanya pelan. kemudian ibunya papa tersenyum penuh arti. sebab perempuan yang dipilih anak bungsunya jg termasuk keluarga, Ciah (ummi) itu keponakan papa. anak dari sepupu papa.

***

setahun berllau sejak pertemuan itu, Nenek datang kembali, meminta bahwa kalau Cia sudah tamat SMA nikahkan saja dengan anaknya, Ismail, anak bungsunya yang pada saat itu telah lulus menjadi PNS sementara cia baru naik kelas 3 SMA, mereka berbeda 5 tahun. mereka harus menunggu setahun lagi...
sampai disitu saja bantuan para orangtua., selanjutnya Papa mulai bertindak :D surat-surat dikirim, karena gowa dan Makassar jaraknya juga sangat jauh (pada zaman itu. kalau zaman sekarang menempuh 1 jam perjalanan) bahkan tak jarang juga papa menyempatkan waktunya berkunjung ke sekolah ummi untuk menjemputnya dan mengantarnya pulang dengan kendaraan pinjaman dari teman atau keluarga (motor vespa)

sempat dikabarkan, hubungan mereka sempat putus...kemudian papa punya pacar lain lagi.. tapi entah pada akhirnya mereka kembali lagi. lalu di tahun 1987 bulan oktober, tepat seminggu setelah ulangtahun ummi, papa resmi datang melamar ummi dan melangsungkan pernikahan. mahar yang diberikan cincin dan seperangkat alat sholat, kemudian biaya "panaik" adalah senilai Rp.750.000,- (dibandingkan skrang sudah ada yg sampe 50juta keatas loh hihi) waktu itu karena kurangnya komunikasi, pernikahan papa dan ummi nyaris batal. karena maslaah waktu yang salah. digowa harusnya sudah akad nikah, tapi di Makassar baru akan mappacci. jadi hari itu ummi menunggu papa tapi tak datang, tamu2 sudah berdatangan, jamuan makanan juga sudah habis, acara yang harusnya jam 10 malam sudah selesai, waktu itu bahkan belum dimulai karena papa di Makassar masih mappacci, dan tak tau bahwa acara akad nikah lah hari itu.
dikamar pengantin ummi menunggu tapi papa belum datang. ummi menangis , 
dandanannya dihapus... hatinya sakit. sedang disana.... papa masih ritual mappacci., keluarga papa menyangka akad nikah itu besoknya. bukan hari itu.
kemudian datanglah kakak ummi ke Makassar naik sepeda, 
beliau datang dengan amarah dan tanda tanya, jam 8 malam beliau tiba.
"loh... loh.. kenapa kalian ini masih mappcci?? akad nikah tadi kenapabtidak datang?? harusnya hari ini akad nikah!!! pengantin di gowa sudah siap dan tamu2 berdatangan tapi kalian disini tidak berangkat?!" teriak om (kakak ummi)
papa dan keluarga di makassar heran dan kaget, sempat saling menyalahkan, sedang ada juga beberapa keluarga papa ngotot bahwa malam itu mappacci harus diselesaikan dulu!
pada akhirnya, pukul 23.00 wita lah baru iringan pengantin dari pihak lelaki berangkat menuju gowa. tiba di gowa pukul 01.00 awalnya pihak keluarga ummi sudah tidak menerima lagi tapi karena saling berembuk akhirnya keputusan diminta dari ummi saja, terserah ummi mau menerima kembali atau membatalkannya. kubayangkan jantung papa waktu itu... sedang didalam kamar ummi menangis, hatinya pilu... kegalauan menyelimuti. ummi sudah tidak
mau menerima lagi , "siapa yg akad nikah tengah malam begini? kalau tak niat tidak usah!" ucapnya... sebab ummi berpikir papa korban perjodohan keluarga.
tapi untunglah satu sepupu ummi membujuknya, "tenang dek jangan terbawa emosi... dengarkan kata hati... mereka bukan sengaja melakukan ini.. kita yang salah menyampaikan waktunya.,"
lama dibujuk, dan lama menunggu akhirnya ummi keluar dari kamar pengantin, pakaian pengantin kembali dikenakannya, riasan wajah seadanya, keluarga dibangunkan, tetangga hadir, penghulu didatangkan... akad nikah pun berlangsung... papa hanya tertunduk lesu, mata ummi bengkak sembab. akad nikah yang harusnya orang berbahagia bersama penuh tawa , tapi saat itu yg ada hanyalah ketegangan dan airmata. saksi berseru "SAH" Allahuakbar.... pernikahan papa dan ummi dijadikan, dan Allah berkehendak atas berlangsungnya. Jodoh!
setelah itu iringan pengantin lelaki pamit pulang, kemudian besoknya datang kembali dengan iringan pengantin lebih banyak, tamu diundang kembali dijamu kembali ,... pelaminan pun lengkap dengan sepasang suami istri yang berbahagia., keluarga-keluarga kembali ceria musik dimainkan anak-anak kecil berlarian. lalu prosesi acara lekka ke Makassar, digedung PHI keluarga kerabat tamu undangan hadir memberi restu dan mendoakan mempelai.
***

setahun kemudian, tahun 1988 lahirlah aku heheheehheheheeh
Ya Allah, rabbighfirli wa liwa lidayya warhamhumaa ka maa rabbayani shoghiira
Ya Allah, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku…
 

No comments:

Post a Comment