09 January 2012

Human Interesrt III : Upacara Pra Imlek

Waktu itu Qiah sedang berkendara santai di jl. Sulawesi- Makassar
membawa kamera tentunya.
disisi kiri jalan ada sebuah klenteng 
XiangMa namanya.
ada kegiatan menarik didalam sana
Qiah bersama Ridho waktu itu 
sama-sama membawa kamera, langsung singgah dan mencoba masuk
rupanya di izinkan! karena dilihat sedang membawa kamera
orang-orang yang ada didalam klenteng dengan ramah mengizinkan kami memotret seluruh isi klenteng
pernak-pernik dan perkakasnya
setelah selesai, Qiah dan Ridho hendak pulang, tapi melihat ada kegiatan lain, sebagian warga china ada yang membakar dupa dan menggelar karpet didepan patung-patung dewa.
rupanya akan diadakan sebuah upacara, upacara Papoi namanya
Upacara sembahyang yang dilaksanakan untuk meminta izin para dewa-dewa yang ada di Klenteng tersebut

koordinator acara sembahyang mengumumkan bahwa proses sembahyang siap dimulai..
ummat yang ikut sembahyang papoi serius membaca instruksi doa

Berdasarkan cerita rakyatr dan legenda kuno, tahun baru China dirayakan ketika orang China berhasil melawan hewan mitos yang disebut sebagai Nian yang berarti tahun dalam bahasa China. Makhluk Nian selalu  muncul pada hari pertama Tahun Baru dan kedatangan Nian adalah memangsa hewan ternak, memakan hasil pertanian dan bahkan penduduk, terutama anak-anak.

Untuk selamat dari petaka Nian, masyarakat [desa] China akan menaruh sejumlah makanan di depan pintu mereka pada hari pertama tahun baru. Masyarakat percaya bahwa, jika Nian telah mengambil/memakan makanan yang telah disediakan oleh masyrakat, maka Nian tidak akan lagi menyerang orang/warga.
Suatu ketika, seorang penduduk menyaksikan [satu/seekor/semakhluk] Nian ketakutan dan lari menghindar dari seorang anak yang berkostum merah. Dari kejadian itu, maka penduduk desa akhirnya tahu kekurangan Nian yakni takut pada warna merah.
Semenjak itu, setiap menjelang dan selama Tahun Baru, penduduk akan menggantung lentera merah serta memasang tirai/gordin merah pada pintu dan jendela. Selain itu, masyarakat juga menggunakan mercun untuk menakuti Nian. Sejak itulah, Nian tidak pernah lagi muncul di desa mereka.

Dan pada akhirnya, Nian berhasil ditangkap oleh Hongjun Lao Tze, seorang pendeta Tao. Nian kemudian menjadi hewan tunggangan Hongjun Lao Tze.



 Realitas Makna Tahun Baru Imlek
Terlepas apakah mitos itu benar atau tidak, yang pasti perayaan Imlek merupakan perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina setelah melewati musim dingin yang menusuk dan mensyukuri permulaan musim baru penuh harapan yakni musim semi yang terjadi tiap tahunnya.
Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama (Cap Go Meh). Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Thian, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.
Yang pasti, hari raya Imlek merupakan momen pertemuan seluruh anggota keluarga sekali dalam setahun. Anggota keluarga akan bersilahturahmi, saling berbagi dan memberikan pengalaman selama setahun. Perayaan ini menjadi sangat berarti tatkala setiap anggota keluarga dan tetangga saling menjalin kasih, saling mengayomi, dan memulai lembaran baru (dengan pakaian baru).

 Makna Simbolis
- Warna merah :  kebahagiaan dan semangat hidup
- Simbol ikan : lambang kelimpahan berkat kasih yang menghidupkan. Dengan memasang gambar ikan atau memakan ikan, mereka mengharap datangnya kelimpahan itu.
- Harmoni dan kasih : anggota keluarga berkumpul, saling berbagi dan menyemangati


Saat ini baru dilakukan sembahyang minta izin perayaan imlek. 
Baru nanti ada lagi sembahyang minta izin perayaan Cap Go Meh tanggal 28 Januari,” kata Henny.  
Saat kedua sembahyang dilakukan, lanjut Henny, di altar tempat kedudukan 
Sang Dewa Chu SU Kong (ahli pengobatan) disediakan sesembahan berupa kue, buah-buahan, dan permen. 
Perlakuan ini juga dilakukan saat upacara 
memandikan arca (patung) dewa-dewa yang dinamakan rupang 
pada 30 Januari mendatang. 

 

seperti itulah cerita hunting kali ini
yang secara tak sengaja
rupanya kita bisa mendapatkan lagi sebuah gambar, stok foto Human Interest
sekaligus dengan beberapa pengetahuan tentang ulture budaya orang TiongHa
tentang tahun baru Imlek
sampai jumpa di hunting berikutnya
salam jepret ^_^
salam federasi fotografi sul-sel

No comments:

Post a Comment