16 March 2011

MENGOMEL TIAP HARI



Ucapan syukur menghias lidah
Berharap akan selalu bisa terarah
Terik mentari di pagi hari
Cahanya semerbak menyinari hati
Berusaha temukan cinta sejati
Hatiku kini tak lagi pilu
Terbuai dunia yang menipu
AKu berharap ini Akan bersemi selalu
Demi mengharap cinta Dzat Yang Maha Tahu

*********************************************

Aku ingin menjadi manusia terbaik dalam menyongsong hari yang sedang kuhadapi dan sekaligus mampu mengkonsentrasikan keseriusan dan kesungguhanku untuk memperbaiki hari dan detik yang sedang kuhadapi ini.
Karena, pemusatan hati untuk berbuat demikian akan menuntutku untuk mengoptimalkan pekerjaan, dan aku pun dapat terhibur dengannya dari kegundahan dan kesedihan.

Pernahkah kamu mengomel karena melakukan pekerjaan yang sama hampir setiap hari atau setiap minggu atau minimal sekali dalam beberapa jangka waktu tertentu, namun akhirnya terasa kalau semua itu menjadi satu beban buat kamu ?

Misalnya mencuci piring, mencuci baju, menyeterika di rumah, atau membersihkan file, mengetik naskah atau membuat nota, mendesign tanpa isnpirasi, tutup buku setiap bulan di kantor ? Apalagi melakukan pekerjaan yang sifatnya sangat membosankan, atau melakukan sesuatu yang sepertinya baru saja kita kerjakan, tapi kemudian sudah ada lagi hal yang sama, sampe kelihatannya apa yang kita kerjakan barusan itu tidak nampak hasilnya ?

Saya mengalaminya, dan tidak mudah untuk tidak mengomel karenanya. Sebagai contoh adalah mencuci baju. heheheuhuhe... Rasanya baru saja saya bisa menarik nafas lega karena tumpukan baju itu sudah berhasil saya cuci semuanya, eh...beberapa menit kemudian sudah muncul lagi tumpukan baju kotor yang baru. Dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk saya ngomel, bukan ?

Karena semuanya itu seperti melakukan sesuatu yang tidak ada hasilnya. Dan setelah beberapa kali mencuci baju, toh tetap saja akan ada lagi dan ada lagi. Sungguh melelahkan.

Belum lagi membersihkan rumah secara keseluruhan. Menyapu lantai, mengelap lemari dan meja supaya bersih dari debu, toh beberapa waktu kemudian, semuanya itu akan kotor lagi dan perlu dibersihkan lagi, lagi, lagi dan lagi. Terkadang saya pikir, betapa menjemukan semua itu.

Hari ini pun saya mengomel lagi untuk hal yang serupa. Saya merasa jenuh dan lelah. saya kekampus mencari dosen pembimbing yang tidak nongol-nongol, bertambah lagi pekerjaan saya yg paliiing membosankan sejagad raya dan seumat mungkin menyetujuinya "menunggu" adalah pekerjaan paling membosankan!!!!??!? aargh...

****

Tapi hari ini, di tengah-tengah semua omelan saya, tiba-tiba Tuhan berbicara dalam hati saya,

‘Itulah yang Kulakukan setiap hari dengan anak-anakKu.’


Saya agak terkejut mendengarnya, malu juga sedikit. Bayangkan saja, ketika saya sedang ngomel-ngomel itu toh Tuhan masih mau berbicara dengan saya. Tapi saya sedang lelah sekali jadi saya menjawab,

’Tapi Tuhan, aku melakukannya setiap hari tanpa ada yang perduli apa kulakukan, dan aku ingin teriak sebetulnya.’


Herannya aku dapat merasakan Dia tersenyum mengerti apa yang kurasakan hari ini.
Dia tidak berbicara lagi, tapi Dia memberikan saya gambaran yang Dia harus lakukan setiap hari dengan hal yang sama, dan seakan-akan semuanya itu tanpa akhir. Dalam pikiran saya terlintas gambaran orang-orang yang setiap hari berbuat kesalahan dan dosa, tapi setiap hari juga mereka mengakuinya dan minta ampun, tapi keesokkan harinya mereka akan melakukannya lagi, lagi dan lagi. Dan itulah sebabnya kenapa Dia mengatakan kalau Dia juga melakukan hal yang sama tadi. Sekarang saya mengerti. Ya, Dia melakukan hal yang sama setiap hari. Itu sebabnya Dia tersenyum mendengar saya mengomel. Dia tahu betul perasaan saya, tapi Dia juga mau saya mengerti hatiNya.

Yang paling berhak untuk mengomel adalah Tuhan sendiri seharusnya

selamat melanjutkan aktifitas dengan penuh keikhlasan ^_^

No comments:

Post a Comment